Nenek

xulian-tiga2Mereka sudah di kandang. Mereka tampak cukup puas dengan perjalanannya mencari makan siang tadi. Pastinya malam nanti mereka akan bisa tidur pulas. Sekarang aku perlu membersihkan badan dan segera menemani nenek yang sebentar lagi akan menghidangkan makan malam.
………………..
“Nek.. apa menu makan malam ini?” Tanyaku agak iseng.
Yaa.. biasalah.. Ayo makaan..” jawab nenek sambil mengambilkan nasi buatku dan menaruh ikan  asin di piringku.

“Sambil makan, nenek mau cerita. Kamu mau mendengarkan cerita nenek kan Xulian..?” kata nenek sambil melahap nasi yang masih hangat, dicampur sambal trasi.

“Pastinya donk nek..” Jawabku singkat.

“Tadi siang waktu nenek pulang dari pasar, ada berita duka. Kampung di sebelah kita sedang mengalami musibah. Nenek tadi sempat kesana untuk memastikan keberadaanmu.” Jelas nenek.

Musibah apa nek?” tanyaku sedikit kaget mendengar cerita nenek.

“Tadi siang, ada angin puyuh mengamuk di sana. Beberapa rumah hancur dan belasan orang meninggal.”

“Hhaaahh… angin? Mengamuk ?” aku kaget bukan main dengan apa yang barusan nenek katakan.

“Iyaa.. tadinya aku sangat mengkhawatirkan kamu, kalau-kalau kamu menggembalakan kambing ke kampung sebelah. Tapi waktu nenek kesana, kamu tidak ada. Setelah kutanya beberapa temanmu yang ada di sana, kamu ternyata ada di ladang.”

“Benar nek.. aku seharian ada di ladang. Dan aku tidak tahu kalau ada musibah itu. Tadi siang aku malah ketiduran… dan bermimpi…” sahutku agak melantur.

Angin… kenapa dengan angin? Kenapa ia sampai mengamuk dan membunuh belasan orang. Bukankah tadi siang, ia sedang bernyanyi dan menari denganku. Apa sebelum ia menemuiku, ia baru saja dari kampung sebelah. Ia pernah bilang, kalau ia hanya angin.. yang hanya bisa memberi. Memberi makanan dan buah-buahan dari surga. Kepada semua jiwa yang hidup di jagad raya ini. Memberi nafas bagi kehidupan. Tidak untuk menjarah. Apalagi sampai mengamuk dan membunuh. Tapi… apa arti semua ini? Hahh.. aku tidak habis mengerti.

“Xulian… kenapa kamu bengong? Nenek belum selesai bercerita. Diantara  korban yang ada… salah satunya adalah kakak Kaila… dan suaminya. Mereka juga meninggal dalam peristiwa itu.” Jelas nenek.

“Glegghh…. Apa?? Kakak Kaila meninggal?!” aku kaget bukan main dan hampir percaya dengan semua pembicaraan nenek.

Kakak Kaila meninggal. Secepat itukah? Kaila.. pasti sesampainya di rumah sangat kaget dan sedih. Ketidakbahagiaan Kaila disempurnakan dengan perginya saudaranya satu-satunya. Kasihan sekali Kaila.

“Neek… kenapa angin itu membunuh kakak Kaila.. dan belasan nyawa yang tak berdosa?” aku mulai melakukan kebiasaanku jika berbincang dengan nenek. Selalu bertanya tentang apa saja yang dianggap tidak masuk akal. Kadang nenek merasa jengkel dengan kebiasaanku ini. Tapi ia cukup bersabar untuk menjawabnya. Walaupun itu justru membuatku lebih banyak bertanya lagi.

“Aku tidak tahu Xulian.. semua kejadian di dunia ini sudah ada yang mengatur. Angin puyuh, gunung meletus, banjir, gempa, penyakit dan semuanya adalah kehendak Tuhan. Kita tidak bisa menghindarinya. Kita hanya bisa berdoa supaya kita dijauhkan dari segala malapetaka. Kalaupun tetap tertimpa, kita hanya bisa tabah.” Jelas nenek.

“Tapi… bukankah angin, gunung, bumi, dan semua makhluk di bumi ini adalah sahabat kita juga, nek. Kalau tidak disakiti, tentunya mereka juga tidak akan menyakiti kita. Mereka bisa memahami pikiran kita. Kenapa kita tidak bersahabat saja dengan mereka? Kalau kita menyayangi dan menghormati mereka, tentu mereka tidak akan menyakiti kita..” kataku.

“Jangan bicara begitu… memangnya siapa yang menyakiti angin. Dan mereka yang tertimpa musibah itu kan juga bukan orang jahat. Lagi pula, siapa yang bisa memahami perilaku mereka. Mereka tidak bisa bicara seperti kita. Mereka tidak punya pikiran apalagi perasaan. Kamu nggak usah bicara yang bukan-bukan, Xulian!” jelas nenek sambil menepuk pipiku.

“Tapi nek… tadi siang aku bermimpi sedang bicara dengan mereka. Dengan angin, daun, batu, dan semua yang ada di sekitarku. Bahkan kami menari dan menyanyi. Sangat menyenangkan, nek. Baru sekali itu aku merasakan suasana seperti itu. Ingin sekali mengulangi kejadian itu. Kalau saja semua orang bisa merasakan pengalaman itu, tentunya tidak akan ada angin puyuh yang membunuh.” Kataku.

“Xulian… sudahlah. Nenek akan berusaha memahami semua yang kau katakan. Nenek mengerti kamu rindu dengan kebahagiaan. Dan nenek sangat senang kamu mulai merasa bahagia. Usiamu masih sangat muda. Perjalananmu masih cukup panjang. Kamu perlu memiliki semangat untuk menjadi apa yang kau impikan. Xulian tidak akan menjadi penggembala selamanya, kan. Tapi nantinya Xulian akan menjadi manusia yang bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Nenek akan menemanimu sampai ada orang lain yang menggantikan nenek. Nenek sangat menyayangimu Xulian…” kata nenek sambil memegang kedua pipiku, dan menatapku dengan penuh keteduhan.

Aku hanya bisa diam sambil menatap wajah nenek yang renta. Tapi guratan di wajahnya menampakkan keteguhan yang tak pernah renta. Ia selalu tegar menghadapi segala yang mengalir dalam hidupnya. Tak pernah mengeluh sedikitpun. Bahkan saat ayah ibuku meninggal, nenek tidak menampakkan kesedihan yang telah menimpanya. Beda denganku. Waktu itu, aku benar-benar jatuh. Kedua orang yang paling dekat denganku, pergi selamanya. Aku seperti kehilangan kehidupan. Benar-benar mati. Tak ada kehidupan dalam diriku. Serasa jiwaku turut dikebumikan bersama kedua jasad kedua orang tuaku. Nenek selalu menemaniku.. menghiburku dengan kasih sayangnya yang sederhana. Hingga suatu waktu, nenek mengucapkan beberapa patah kata, “Xulian… segala yang datang akan pergi, dan segala yang pergi akan datang.”

Entah kekuatan apa yang tersembunyi dari kata-kata itu. Kata-kata itu muncul pada saat yang sangat tepat. Serasa ada yang menyentakkanku. Berangsur-angsur, jiwaku mulai hidup kembali. Entah darimana nenek menemukan ucapan itu. Nenek hanya mengucapkan sekali saja sepanjang yang kutahu, hingga sekarang tak pernah diucapkannya lagi. Terkadang nenek tampak misterius. Tak bisa ditebak. Di balik kepolosannya, ia menyimpan beribu keteguhan jiwa.  Sebuah kebijaksanaan dibalik kesederhanaan.

“Xulian, sudah malam. Sekarang, kamu istirahat yaa. Besok kita akan ke rumah Kaila untuk turut berduka.” Kata nenek sambil membereskan piring dan sisa makanan yang masih tersisa di meja. Lalu ia pergi ke dapur.

Aku masih terduduk diam beberapa saat.
Lalu… beranjak tidur.



4 Responses to “Nenek”

  1. zee says:

    I like this story. :)
    Sudah gw bilang, lu oke banged urusan buat2 cerita. Harus di-published nih lho…

  2. elmoudy says:

    agak kaget liat komenmu.. soalnya tulisan2 disini emang gak dipublish..
    makasih Zee… gw jadi seneng n nambah smangat.. :)

  3. Triunt says:

    Selalu penasaran bengen segera ada novel tercetak rapi dengan cover bertulis Xulian :sip:

  4. elmoudy says:

    haha.. pengennya gt Sob. Tp masih suka males2an nulis neh

Leave a Reply

:D :? ^.^ :) :() :( :?! :! :_: <_* <_> :?? :p ^x^ +_+ :sip: more »