Kambing dan Nizar Kailani

xulian-dua2“Kubawakan air buat kalian. Setidaknya ini akan membasahi kerongkonganmu!” Ujarku  kepada kambingku. Ketiga kambingku langsung menghampiriku dan saling berebut seember air yang kupegang. Mereka tampak sangat kehausan, maklum saja hampir seharian mereka merumput di bawah terik matahari. Mereka tampak antusias untuk menyeruput air segar itu hingga habis tak tersisa. Kulihat ada kepuasan di muka mereka. Seolah mereka ingin menunjukkan kebahagiaannya, dengan tersenyum sekenanya dengan sedikit rona muka yang lebih segar. Aku turut senang melihat ekpresi mereka. Haha.. dasar kambing.

Ketiga kambingku ini adalah makhluk terdekat, tepatnya kawan dekatku. Setiap harinya, hampir seharian waktuku aku habiskan bersama mereka. Aku sangat nyaman dan senang bermain-main dengan mereka. Kadang mereka mengajakku berkejaran di ladang. Kadang mereka minta dibelai lehernya yang dipenuhi bulu hitam yang panjang dan tebal. Kadang saat aku sedang sedih dan terdiam, mereka menghampiriku dan spontan mereka mendekatkan kepalanya ke wajahku, dan hendak menciumi mukaku sebagai isyarat agar aku bangkit dan berjalan-jalan menggembaakan mereka. Melupakan semua duka dan menikmati kesegaran alam. Bersama kambing.

Aku mulai teringat dengan kisah itu. Beberapa waktu yang lalu, saat kedua orang tuaku meninggal dunia, rasa duka yang berkepanjangan menghantui hari-hariku. Sekian lamanya aku kehilangan kehidupan. Jiwaku senyap. Tak ada lagi cinta sejati yang bisa menggantikan kesejatian cinta ayah ibuku kepadaku. Mereka sangat mengayangiku dan segala yang dimilikinya ia berikan untukku dan masa depanku. Aku adalah anak lelaki tunggalnya, yang sangat diharapkannya kelak menjadi manusia yang berguna bagi siapa saja. Berguna bagi keluarga. Tetangga sekitar. Berguna bagi masyarakat. Bagi kehidupan yang ada di bumi ini. Sebagai manusia  utuh. Begitu kata ayahku. Pengorbanan mereka melampaui kehidupan raga mereka. Hingga akhrinya mereka menghembuskan nafasnya yang terakhir demi anak semata wayangnya ini.

Ayah ibu… anakmu ini masih saja kekanak-kanakan. Tentu saja aku tak akan pernah sanggup membalas cinta kalian. Tapi aku berjanji, akan menjadi anak yang selalu ingat dan menjalani semua nasehat terakhirmu. Menjadi manusia utuh.  Aku tahu, jiwa kalian ada di dalam diriku. Bersemayam dan satu dengan jiwaku yang masih muda. Kalian selalu membimbing dan mengarahkanku untuk menemukan mutiara kehidupan yang masih tersembunyi dari mata batinku. Usiaku yang baru 22 tahun, masih sangat labil untuk mengerti dan melakoni kehidupan yang nyata. Aku yakin jika sampai pada waktunya, aku akan menemukan mutiara itu sebagai sumber cahaya yang menjadikanku sebagai manusia utuh. Ayah ibu… aku rindu kalian.

Tak terasa, air mataku mengalir dari celah kedua mataku. Air mata yang bermula dari palung jiwa yang terdalam, tempat dimana ayah ibu bersemayam. Air mata sebagai tanda cinta yang murni antara aku, ibu, dan ayah.

Tanpa kusadari, seekor kambing menghampiriku dan hendak menciumku yang sejak dari tadi tertegun diam. Hahhh… mereka selalu tahu apa yang sedang kupikirkan. Baiklah.. sepertinya kalian ingin mengajakku berjalan-jalan. Menyusuri pematang dan berkejaran di bawah matahari sore.

“Xuliaaaaaann…!” Kudengar ada suara dari kejauhan memanggilku. Hmm… Nizar Kailani. Mau apalagi dia kesini. Beberapa hari ini, ia sering datang ke sini. Katanya, ia suka dengan kambing-kambingku. Nizar Kailani, anak gadis seorang pedagang kaya di kampungku. Tapi kulihat, dia tidak pernah menunjukkan kalau dia anak kaya. Dia tampak sederhana. Tiap ke sini, dia cuman pakai celana pendek selutut dan kaos oblong. Dengan sandal jepit. Yang jelas… aku suka dengan kesederhanaannya.

Aku lebih senang memanggilnya Nizar, walau keluarganya memanggilnya, Kaila. Buatku, dia tampak lebih laki-laki, daripada perempuan. Tomboi dan suka pecicilan seenaknya. Karena itulah, Nizar adalah panggilan yang lebih pas buatnya. Tapi, tiap kali aku memanggilnya begitu, dia tidak terima. Katanya Nizar Kailani adalah perempuan, dan panggil aku Kaila, okeey!! Yaap… pa boleh buat, okey Kaila. Aku bisa mengerti itu. Tapi hal yang tetap tidak kumengerti, kenapa ia mau saja datang ke sini sekedar menemani kambing-kambingku di ladang. Katanya, ia bosan tinggal di rumah.

“Xuliaaaan…!” kali kedua dia memanggilku dengan setengah teriak. “Maaf ya, aku datang terlambat. Ini kubawakan makanan dan buah. Juga sebotol air. Tentu kamu belum makan siang kan? Kambingmu saja sudah kenyang, tapi majikannya sendiri kok masih kelaparan. Ini makanlah…! Ada nasi pecel, buah pepaya, dan sebotol air dingin.”

Dengan sedikit rasa sungkan.. aku ambil bungkusan itu dari tangannya, lalu kuteguk air dingin yang ada dibotol. “Terima kasih, Kaila.. kamu sangat baik. Tapi sekarang aku musti menggembalakan kambing-kambingku ini, mereka mengajakku jalan menyusuri pematang. Kayaknya mereka masih belum kenyang. Aku akan menghabiskan makanan ini setelah selesai menggembala mereka.”

“Eiihh… Xulian… Istirahatlah dulu sebentar. Habiskan dulu makanan itu. Biar aku saja yang menemani kambing-kambingmu. Oke yaa..!” katanya. Kaila langsung berlari kecil menghampiri kambing-kambingku dan menarik tali yang menggelantung di salah satu leher kambingku yang paling kecil. Ia tampak sangat senang melakukan kebiasaan barunya itu.

Aku mulai membuka bungkusan nasi pecel, dan segera kulahap. Sambil makan, aku memperhatikan tingkah laku Kaila yang sedang bermain-main dengan kambing-kambingku. Anak gadis kaya berjibaku dengan kambing. Haaha… Sesekali ia menarik tali yang menggelantung di leher kambing agar si kambing mau berjalan mengikutinya. Ia ambil dedaunan rumput gajah  dan memberikannya ke kambingku yang paling kecil. Tapi sayang, si kambing cuek dan lebih suka memilih rumput yang ada di  bawahnya. Kaila pun agak kesal. Setengah memaksa,Kaila meyodorkannya agar si kambing mau memakan daun yang dari tadi dipeganginya. Tetap saja si kambing tak mau, dan malah pergi meninggalkan Kaila. Haha… kasian amat Kaila dicuekin ama kambing.

Tiba-tiba Kaila menoleh kepadaku, dan terang saja aku setengah kaget. Sambil tertawa riang dia mendatangiku yang masih terduduk di bawah pohon nangka. Aku terus saja melahap nasi pecel untuk yang terakhir, dan meneguk air untuk melonggarkan kerongkongan.

“Xulian.. kenapa kambing kecilmu tidak mau bermain denganku? Kayaknya dia tidak menyukaiku?” ujarnya agak kesal.

“Ya, mungkin. Bisa jadi, ia tak tahan dengan bau badanmu. Terlalu wangi kali… Kalau lama-lama dekat kamu, bisa-bisa mereka bersin” jawabku setengah ngawur.

“Masak seh… kalau gitu besok aku akan menggosok badanku dengan minyak ikan. Biar bau amis dan asin. Kan kambing suka yang asin-asin yaa.. betul nggak, Xulian..?”

“Yap pastinya… saking senangnya, nanti kamu akan diciumi dan dimakannya..  Huaha hahaa…..” kami pun tertawa lepas agak lama.. hingga beberapa saat kami terdiam.

“Eeh.. Xulian. Aku lihat hari ini kamu tampak beda..” kata Kaila sambil menatapku agak serius. “Emangnya apa yang beda?” tanyaku balik. “Aku melihat air mukamu tampak lebih tenang dan bahagia. Dan matamu agak basah. Apa kamu habis menangis?” Pertanyaan Kaila membuatku agak bingung. Apa aku harus menanggapi pertanyaannya ini. “Ahh… gak ada apa-apa. Tadi mataku baru saja tersiram air saat aku minum.” Jelasku agak mengarang.

“Aku yakin bukan karena itu. Tahukah kamu Xulian.. kenapa aku suka bermain-main ke sini bersama kambing-kambingmu ini. Karena beberapa hari kemarin, secara tak sengaja aku melihat kalian terlihat sangat dekat dan akrab. Seolah, kamu dan kambing-kambingmu adalah satu keluarga yang hidup dengan  amat bahagia. Aku jadi pengen ikut gabung. Kadang aku berpikir, kenapa ini bisa terjadi? Ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa manusia dan kambing serasa menjadi satu keluarga yang bahagia. Kamu memiliki nenek yang selalu memperhatikanmu, dan mencintaimu. Dan kamu juga punya keluarga yang sangat kamu sayangi, yaitu ketiga kambingmu ini. Entahlah.. bisa saja pandanganku ini salah. Bagaimana menurutmu?” Tanya Kaila dengan mimik yang mengherankan.

“Hmm… entahlah. Nenek adalah satu-satunya sosok yang kupunya. Dia sangat menyayangiku. Dan kambingku ini.. menjadi teman yang dengan setia menemaniku kemana pun aku pergi. Selayaknya teman sejati, yap. Merekalah yang membuatku lebih nyaman dalam menjalani keseharianku. Aku bahagia bersama mereka. Karena memang hanya mereka yang kupunya. Karena aku memang penggembala kambing. Memangnya kenapa denganmu, Kaila? Apakah kamu tidak bahagia dengan apa yang sudah kamu miliki sekarang? Ada ayah ibu, saudara – yang pastinya sangat memperhatikan kamu. Semua kebutuhanmu bisa kamu dapatkan dengan mudah. Apalagi yang kurang?” aku coba peduli dengan risau yang menyelimuti wajahnya.

“Tidak… tidak seperti yang kaubayangkan. Walaupun aku punya keluarga yang lengkap – ada ayah, ibu, dan seorang kakak perempuan, tapi kehidupan kami tidak seperti yang kau bayangkan. Ayah ibuku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Katanya ini semua untuk masa depanku nanti. Mereka memberiku uang dan segala kebutuhanku telah mereka sediakan. Kecuali satu hal. Kasih sayang mereka. Aku tidak merasakannya itu. Kakakku sudah menikah dengan seorang laki-laki di kampung lain, dan tentu saja sudah tidak ada lagi yang memperhatikanku lagi. Kadang ayah ibuku suka bertengkar tentang sesuatu yang tidak perlu. Dan aku cukup muak melihat pertengkaran itu. Aku bertanya dalam batin, dimanakah kebahagiaan itu? Kekayaan justru membuat kehidupan menjadi sempit dan sesak. Tak ada ruang untuk menikmati apa itu yang dinamakan kebahagiaan. Aku coba mencari-cari jawaban. Tapi hingga saat ini, pertanyaan itu tak pernah bisa kuketemukan.

“Xulian… maukah kamu berbagi kebahagiaan denganku?” Kulihat mata Kaila tampak berkaca-kaca. Ia seolah memohon sesuatu yang sangat berarti bagi hidupnya. Kepadaku, bagaimana mungkin. Memangnya aku ini siapa. Aku hanya seorang anak miskin yang hidupnya penuh dengan kesusahan. Bagaimana aku bisa membagi kebahagiaan dengan seorang anak pedagang kaya. Permintaan Kaila malah membuatku tidak habis mengerti. Aku justru berpikir, seandainya aku bisa menjadi pedagang kaya seperti ayahnya, tentu ayah ibuku tidak harus bekerja keras. Dan mereka akan bisa menemaniku hingga waktu yang sangat lama. Tapi karena kemiskinan ini, ayah ibuku pergi lebih cepat. Dan aku pun hanya penggembala kambing. Entah sampai kapan.

“Heih… kenapa kamu diam saja, Xulian?” aku tersentak kaget mendengar suara Kaila.
“Hmm… entahlah… aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Apa yang musti aku bagi?” aku bingung untuk menanggapi pertanyaannya.

“Ya sudahlah… kurasa kamu tidak bisa membantuku. Mungkin saja kambing-kambingmu itu yang malah bisa membantuku. Yukk… kita bawa mereka jalan-jalan. Kayaknya mereka sudah tidak sabar lagi menunggu majikannya. Aku pegang kambing kecilmu yaa. Dan kamu yang lainnya. Boleh yaa…!” aku terdiam sejenak menyadari kekecewaan Kaila.

Kami pun segera beranjak dan menghampiri ketiga kambing yang memang dari tadi sudah tampak bosan merumput di tempat yang sama. Mereka ingin mencari rumput lain dengan suasana yang lebih menyenangkan. Aku, Kaila, dan ketiga kambingku berjalan menyusuri pematang yang di sekitarnya tampak hijau. Sesekali kambing kecilku yang dibawa Kaila mogok jalan, dan spontan ingin merumput. Tapi segera Kaila menarik-narik tali yang mengikat leher si kambing, hingga akhirnya mereka berjalan bersama. Mereka mulai tampak akrab.

Hembusan angin sore membuat perjalanan sore kami serasa segar dan riang. Ditemani goyangan dedaunan ilalang yang tampak menghijau di sisi kanan kiri kami, seolah mereka melambai-lambai kepada kami berlima. Mereka seperti sedang menjamu kami selaku sahabat bagi mereka. Entah ada apa dengan hari ini. Aku merasakan sore ini beda, tampak lebih menyenangkan. Kedekatan, keakraban, dan keintiman memenuhi seisi jiwa. Terhadap dedaunan, tanah, bebatuan, angin, awan, dan semua hal yang ada di sekitarku. Terhadap kambing-kambingku. Juga terhadap Kaila.



Leave a Reply

:D :? ^.^ :) :() :( :?! :! :_: <_* <_> :?? :p ^x^ +_+ :sip: more »