Hutan

xulian-enam2Kambing yang paling kecil menghampiriku. Ia menghenduskan hidungnya ke mukaku. Ia ingin aku membelai kepalanya dan mengajaknya bermain. Segera kuayunkan tanganku dan mengusap-usap hidung dan kepalanya. Ia tampak senang dan semakin mendekatkan kepalanya ke tubuhku. Lalu kambing-kambingku yang lain turut mendekatiku dan mengerubungiku. Mereka bertiga mengajaku bermain.

Kambing yang paling tua mengangkat kedua kaki depannya dan ingin naik ke pundakku. Satunya lagi mencoba menghalanginya dengan menyerudukkan tanduknya ke bagian belakang tubuh kambing yang paling tua. Kambing yang paling tua jengkel melihat adiknya yang bersikap kurang ajar terhadapnya. Ia coba membalas kelakuan adiknya itu. Dan mereka saling adu tanduk. Si kambing yang paling kecil hanya bisa menatap kedua kakaknya yang sedang bertarung mempertahankan keperkasaan tanduknya masing-masing. Akhirnya kambing yang lebih muda mengaku kalah dan lari meninggalkan kakaknya. Tapi si kakak tertua mengejarnya dan berusaha menaikkan kedua kakinya kebagian belakang tubuh adik pertamanya. Lalu si kambing yang paling kecil ikut berlarian mengejar kedua kakaknya dan menaikkan kedua kakinya di bagian belakang tubuh kakak tertua. Tampaklah mereka bertiga bermain kuda-kudaan. Haa….hhaa.. mereka tampak senang sekali.

Beberapa saat kemudian aku berdiri dan menghampiri mereka yang masih bermain kuda-kudaan. Aku pegang tali yang menggelantung di leher kambing tertua dan menggiringnya untuk aku ajak jalan-jalan. Dan kedua adiknya pun turut mengikuti kakak tertuanya dari belakang.

“Hari ini aku akan membawa kalian jalan-jalan ke hutan. Sudah lama kita tidak kesana. Di sana banyak hidangan segar yang kalian tidak akan pernah bosan-bosannya untuk melahapnya. Hutan. Disana banyak rumput dan dedaunan. Di sana juga ada buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Ada banyak pepohonan dengan rimbunan daun sehingga suasananya tampak sangat sejuk. Ada sungai-sungai yang mengalir dengan jernih dan iringi kicauan burung-burung yang saling bersautan menyanyikan suara-suara alam. Kuharap kalian bisa menikmati suasana itu. Yaa… paling tidak perut kalian akan penuh dengan rerumputan dan dedaunan yang ada di sana. ” gumamku sendirian.

Kambing-kambingku hanya bisa diam, sesekali menolehku dan seolah mereka ingin memberikan kata persetujuan atas percakapanku itu.

Akhirnya sampai juga. Terakhir aku mengunjungi hutan ini tiga bulan yang lalu. Aku cukup terpaku melihat perubahan yang terjadi. Keadaan benar-benar sangat berbeda. Sekarang, banyak pepohonan yang hilang. Buah-buahan pun sudah mulai jarang dan tampak tidak sehat. Hanya rerumputan liar saja yang masih belum berubah. Kenapa dengan hutan ini. Sepertinya ada yang sengaja merusaknya.

Sayang sekali. Kenapa masih saja ada manusia yang tidak bisa menikmati keindahan. Kenapa manusia lebih suka kerusakan dan kebobrokan. Mereka telah mengganti keindahan dengan kebobrokan. Apa maunya mereka ini. Mereka mengakunya punya peradaban yang lebih tinggi, justru membutakan matanya sendiri dengan merusak tataan alam ini. Keanehan macam apa ini. Dimana letak peradaban mereka itu. Manusia yang beradap mestinya cinta dengan keindahan. Tapi mereka malah menghancurkan. Mungkinkah mereka punya sesuatu yang lebih indah dari apa yang sudah tersedia di alam ini.

“Hai… anak muda, kenapa kau berdiri di tengah jalan!” terdengar suara pak tua dari belakang. Suaranya agak berat, dan terdengar cukup ngos-ngosan.

Aku terkejut dan menoleh berbalik ke belakang. Terlihat seorang laki-laki seusia 50-an, dan ia sedang membawa gerobak ke arahku, di belakangnya ada beberapa gelondong kayu besar.

“Oh…maaf!” jawabku singkat sambil melangkah ke samping.

Lalu kulihat ia menghentikan langkahnya dan menyeka keringatnya yang membasahi mukanya. Sepertinya ia ingin istirahat dari perjalanan yang cukup melelahkan.

“Anak muda, bolehkah aku minta air seteguk!” ia menghampiriku sambil menjulurkan tangannya seolah aku akan memberikan airku kepadanya.
“Boleh, ini ambillah” jawabku. Kuharap ia tidak akan menghabiskannya. Lalu ia pun meneguknya.

“Terima kasih, anak muda. Kalau boleh tahu, dari mana asalmu?” tanyanya.
“Aku dari kampung Nagalima” jawabku singkat.

“Nagalima..” balasnya pelan, sambil melepas tali gerobaknya.
“Kebanyakan anak-anak muda di kampung Nagalima merantau ke kota untuk berdagang dan belajar. Kenapa kamu malah jadi pengembala kambing?” tanyanya yang sedikit memojokanku.

“Entahlah. Aku belum ingin keluar dari kampungku. Rasanya ada sesuatu yang perlu aku cari di sini.” jawabku.

“Apa lagi yang kau cari anak muda. Siapapun tahu anak seusiamu perlu belajar ke kota dan mencari nafkah agar nantinya bisa hidup kaya dan bahagia. Apa kamu ingin hidup susah terus? Menjadi pengembala kambing sampai tua dan mati?” balasnya, dan ia semakin memojokkanku.

“Entahlah… suatu saat mungkin aku menyusul mereka. Tapi ada sesuatu yang perlu kuselesaikan di sini. Setelah aku selesai dengan urusanku, aku akan berpetualang meninggalkan kampung halamanku.” aku agak kebingungan dengan apa yang barusan aku katakan ini.

“Hei… anak muda. Kamu tidak usah banyak berkhayal. Aku beritahu ya. Dulu sewaktu aku masih seusiamu, aku hidup santai-santai saja. Tidak pernah mau bekerja keras. Banyak berkhayal. Hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Menikmati masa-masa muda dengan kesenangan sementara. Dan diusiaku sekarang ini aku hanya bekerja sebagai penarik gerobak kayu. Setiap hari hanya ini yang kukerjakan. Upah yang kuperoleh pun tak seberapa. Hanya cukup untuk biaya makan istri dan anak. Apa kamu ingin bernasib sepertiku ini?

Cobalah untuk lebih semangat dan bekerja keras. Kambing yang kamu gembalakan ini tidak akan cukup untuk membiaya masa depanmu. Masa depan tidak cukup hanya dengan kambing saja. Paling-paling kambingmu ini dalam satu-dua tahun hanya beranak dua-tiga ekor saja. Dan mungkin akan kamu jual untuk keperluan sehari-hari. Lalu kamu punya apa? Uangmu akan habis untuk biaya makan. Belum lagi nanti kalau kamu hendak melamar anak gadis dan menikahinya. Dengan apa kamu akan membiayai itu semua. Setelah punya istri lalu punya anak. Akan kamu beri makan apa mereka itu. Cobalah berfikir lebih jauh.

Aku punya anak seusiamu. Ia sudah tiga tahun merantau ke kota. Dan ia cukup berhasil di sana. Ia sekarang berdagang batu mulia bersama dengan majikannya yang sangat kaya-raya. Jika mau, akan kenalkan kamu dengannya.” jelasnya.

Aku cukup kebingungan menanggapi ocehannya.
“Entahlah… aku tidak tahu. Lalu kenapa bapak tidak ikut saja dengan anak bapak di kota?” Aku coba peduli dengan ocehannya.

“Yaahh…. Aku sudah cukup dengan pekerjaan ini. Aku sudah cukup tua. Mungkin aku sama denganmu. Aku lebih suka tinggal di kampung dan di hutan. Aku sudah merasa senang anakku sudah bisa hidup mandiri di kota. Dan pekerjaanku ini sudah cukup untuk memberi makan keluarga. Sebagai orang tua pasti akan sangat bangga jika anaknya berhasil dan kaya-raya. Yahh… itulah kebahagiaan bagi orang tua. Bagaimana dengan orang tuamu?” tanyanya agak simpatik.

“Kedua orang tuaku sudah meninggal. Mereka meninggal saat mereka sedang merantau ke kota selama beberapa bulan. Dan saat hendak pulang ke kampung, mereka mengalami musibah hingga pada akhirnya mereka sampai ke rumah dalam keadaan damai. Tanpa gerak, tanpa nafas.” jawabku.

“Ohh… maaf, aku turut berduka. Apa itu sebabnya kamu tidak ingin pergi ke kota?” tanyanya agak pelan.

“Entahlah…. Mungkin saja” jawabku agak datar.

“Kenapa setiap aku tanya, jawabmu selalu entahlah. Apa kamu sedang kebingungan, anak muda?” tanyanya dengan raut muka selidik.

“Entahlah…. Mungkin aku bingung dengan keberadaanku sekarang. Di hutan dan bertemu pak tua sepertimu. Atau mungkin aku bingung dengan hidupku. Bisakah kau beri aku jawaban yang tepat dan singkat, bagaimana hidup itu dijalani?” Aku mulai bertanya sesuatu yang memusingkan diriku sendiri.

Pak tua tampak terdiam dan ia sedang menatapku… cukup dalam.

“Pertanyaanmu sangat sederhana sekali, anak muda. Dan aku akan memberikanmu jawaban yang sederhana juga. Hidup itu untuk di jalani dengan apa adanya dan sebaik-baiknya. Jika saat ini kamu punya kambing, gembalakan mereka dengan baik. Jika kamu punya anak nanti, didik mereka dengan baik. Jika kamu punya nenek, sayangilah ia dengan baik. Jika kamu punya teman, bergaullah dengan baik. Begitulah kira-kira hidup.”

Bapak ini memberikan jawaban yang sangat gamblang sekali. Sekilas, aku cukup tertegun dengan apa yang barusan dikatakannya. Sekaligus tambah bingung. Sepertinya ia kurang yakin dengan apa yang barusan dikatakannya. Pandangannya dengan kebahagiaan hampir sama denganku. Tetapi raut mukanya menampakkan keraguan. Kenapa pula ia hanya sebagai penarik gerobak kayu? Cukupkah kehidupan dijalani hanya dengan menarik gerobak? Hahh.. aku memutarbalikkan kaya-katanya.

“Anak muda, siapa namamu?” ia tiba-tiba menanyakan sesuatu yang lebih pribadi.
“Namaku Xulian. Dan aku harus menanggil bapak apa?” aku balik nanya.

“Panggil aku Saleek. Xulian.. kayaknya kamu tidak puas dengan jawabanku. Aku cukup senang dengan anak muda sepertimu. Yang selalu mencari jawaban tentang hidup. Tapi kamu jangan terlena dengan keadaanmu ini. Kamu pun harus segera bergegas untuk bangkit dan lari sekencang-kencangnya. Segera kau temukan apa yang kau cari itu. Mungkin aku tidak banyak membantumu. Tapi aku bisa memberimu petunjuk. Kamu bisa menemui seseorang yang bernama siffu. Ia seorang pemahat patung. Usianya lebih tua dariku. Ia adalah seorang yang bijak. Temuilah ia. Ia tinggal dikampung sebelahmu. Beberapa minggu kemarin rumahnya hampir tersapu angin puyuh.

Dan sekarang aku akan meneruskan perjalananku. Seseorang sudah menungguku di pasar. Terima kasih atas airnya, Xulian!” selesai ia bicara segera bergegas menuju ke gerobaknya.

“Sama-sama. Terima kasih juga!” jawabku.

Bapak yang menyebut dirinya Saleek itu segera menarik gerobaknya. Awalnya ia tampak keberatan menarik gerobak yang berisi gelondongan kayu. Lambat laun ia bisa berjalan lebih cepat. Ia hendak membawanya ke pasar untuk dilual kepada seorang makelar kayu. Biasanya kayu itu akan dibawa ke kota dan diolah menjadi perabotan rumah. Kurasa bapak ini bukanlah termasuk golongan manusia yang suka menebang kayu seenaknya. Kayu yang dibawanya berasal dari pohon-pohon tua yang mungkin sudah tumbang, kemudian ia potong-potong lalu dibawanya ke pasar.

Berbeda dengan para penebang kayu pada umumnya. Biasanya mereka dikomandai dan dibayar oleh seseorang mandor dari kota. Mereka melakukan penebangan secara besar-besaran demi mendapatkan keuntungan yang banyak. Merekalah yang telah menjarah dan merusak hutan ini. Semula aku hanya mendengar berita tentang mereka dari nenekku. Dan sekarang aku menyaksikan akibat dari ulah mereka terhadap hutan ini. Hutan ini sudah kehilangan keindahannya. Dan Saleek mungkin sebentar lagi akan kehilangan pekerjaannya karena hutan-hutan ini akan sangat cepat musnah ditebangi. Dan dalam keadaan terpaksa, bisa saja ia akan bergabung dengan kelompok penjarah ini.

Siffu. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi entah dimana. Namanya serasa tidak asing lagi terdengar di telingaku. Entah kenapa aku cukup tertarik dengan nama itu. Sepertinya aku perlu menemuinya. Mungkin saja ia bisa memberiku jawaban. Besok pagi sebelum aku menggembala kambing, aku akan menemuinya. Moga saja ia ada di rumah.



4 Responses to “Hutan”

  1. zee says:

    Agak sedih hati ini mengetahui kisah hidup si bapak tua. Sudah tua tapi hanya bisa jadi penarik gerobak dgn bayaran tak seberapa. Nasihat yg dia berikan itu benar adanya, orang harus berani melangkah untuk berhasil.

    Siapa siffu itu? Bukan sufi? Di bayangan gw seperti ada bapak Anand di sini :)

  2. elmoudy says:

    hahaa… bisa aja lo Zee.
    Siffu itu gurunya kungfu Panda.. wkwkwww

  3. Han Gagas says:

    draft kau tampilkan nanti dicuri org gimana, Mud?

  4. elmoudy says:

    hehee…moga aja nggak ada yg mau nyuri.
    kan masih draft..msh asal-asalan nulisnya haha

Leave a Reply

:D :? ^.^ :) :() :( :?! :! :_: <_* <_> :?? :p ^x^ +_+ :sip: more »