Kosong

xulian-satu-kosong2Gelap… kelam… sangat gelap……

Apa ini? Dimana aku? Aku serasa hilang di tengah ruang waktu yang kosong. Tak tahu lagi dimana aku berada. Aku? Masih adakah aku? Seolah aku kosong dan menyatu dengan kekosongan. Kekosongan yang memenuhi seluruh ruang jagad. Yang kutahu, aku adalah aku, tanpa bentuk.. tanpa rupa. Aku buta akan semua wujudku. Aku, serasa sedang melesat menembus kekosongan yang gelap gulita, menuju ke takterbatasan dimensi. Saat kusadari aku sedang bergerak melesat, seketika aku pun terhenti tanpa rasa. Lalu kekosongan berbalik melesat menujuku, masuk di kedalaman ruang jiwaku.

Aku terpaku membeku, merasakan kekosongan yang mengalir deras melewati jasad dan darahku. Menerjang duri-duri keakuanku hingga tersapu bersih tak tersisa. Melenyapkan patung-patung keberhalaan yang telah tertancap ratusan tahun di tulang rusukku. Kekosongan itu semakin deras mengalir dalam ruang waktuku, hingga sampai pada kekosongan itu sendiri. Senyap. Sunyi…

Siapa aku? Siapa kekosongan? Apa beda aku dengan kekosongan? Saat kekosongan melesat masuk di ruang jiwaku, aku pun melesat masuk ke ruang kekosongan. Saat kekosongan merasukiku, aku pun merasuki kekosongan. Aku adalah kosong. Kosong adalah aku…

Aku pun terbangun.

Kurasakan hembusan lembut angin menerpa tubuhku, seolah ia ingin membangunkanku dari tidurku. Aku sangat suka dengan caranya membangunkanku. Lembut dan menyegarkan. Ia pun membawa udara segar dari laut seberang untuk diberikannya kepadaku. Kepada jiwaku. Kulihat remang-remang pepohonan tampak lebih hijau, segar, begitu dekat, dan intim. Bebatuan pun serasa mendekat seolah ingin mengajak jiwaku yang baru saja terbangun. Goyangan dedaunan ilalang mengajakku menari-nari sambil mendendangkan nyanyian alam. Awan, langit, dan matahari pun tak ketinggalan turut memeriahkan suasana dengan memancarkan kilaunya yang warna warni.

Semua yang terhampar di depanku, sedang menyapa jiwaku dengan penuh keriangan dan kegembiraan. Mereka semua, sedang memainkan peran di atas panggung raksasa dengan sangat kompak dan indah. Menari-nari sambil mendendangkan hentakan irama kehidupan membentuk satu harmoni yang utuh. Aku pun hanyut dalam pusarannya. Terasa tercurah luapan rasa yang amat mendalam dan meluas… Seluas tepian-tepian langit di atas sana.

Kurasakan sayup-sayup suara jiwa dari dedaunan, batu, angin, awan, dan semua makhluk yang ada di sekitarku. Betapa tenang dan damainya bebatuan ini. Ia begitu pasrah dan teguh dalam menghadapi hari-harinya. Walaupun ia diterpa panas terik, diguyur hujan bertubi-tubi, ia tetap saja tenang dan teguh dalam menghadapi semuanya. Sekarang pun ia masih menatapku dengan keteguhan jiwanya, seolah mengajakku untuk masuk ke dunianya.

Dedaunan ilalang pun tak henti-hentinya bercengkerama dengan sang angin sambil meneriakkan yel-yel kemenangan yang sepertinya baru saja diperolehnya. Entah kemenangan apa yang dirasakannya. Sesaat, ia menoleh kepadaku, sepertinya dia telah mendengar pikiranku. Katanya, “Ini adalah hari bahagiaku karena tadi malam sang hujan telah menyegarkan dahagaku. Sekarang, sang angin datang membelai tubuhku dengan sangat lembut dan ringan. Aku sangat bahagia. Bolehkah aku berbagi kebahagiaan denganmu?”

“Hahaaa…. Dengan senang hati kuterima tawaranmu, wahai ilalang. Ayo kita rayakan kemenanganmu!” balasku.

Tak ketinggalan sang angin turut menyahut, “Xulian… mari kudekap tubuhmu agar jiwaku pun selalu segar dan riang. Juga telah kubawakan makanan dan buah-buahan dari laut seberang buat jiwamu. Makanlah ini dan bergembiralah…!”

Kurasakan dekapan sang angin yang sangat lembut dan ringan masuk di kedalaman jiwaku yang paling dalam. Kuhirup udara segar hingga memenuhi rongga dadaku, menelusup masuk di sela peredaran darah di sekujur tubuhku. Menembus sumsum tulang hingga ke seluruh isi kepala. Segar, dan menggairahkan.

“Terima kasih angin, kau tak pernah bosan memberiku makanan dari surgamu. Kau tak pernah pilih kasih. Seluruh makhluk di bumi telah kau sapa, kau belai, kau jamu dengan suapan kesegaran tanpa kau minta imbalan apapun.” Lalu sang angin pun berucap, “Simpan saja kata-katamu itu. Aku memang tercipta untuk memberi. Tidak untuk meminta apalagi menjarah. Aku angin dan hanya angin. Tak pernah lebih dari itu. Sekarang mari kita bergembira, Xuliaaan!” Sang angin pun berputar ringan di atas kepalaku, lalu menari meliuk menggoyang dedaunan di atas pepohonan.

Nyanyian dan tarian semua makhluk di sekitarku menghanyutkan apapun yang ada di dalamnya. Tiada hentinya. Jiwaku pun turut menari dan hanyut dalam ekstase yang maha dahsyat…

Apalagi yang hendak aku cari, saat diriku sudah memperoleh suasana yang penuh keriangan dan kegembiraan. Hanya kebahagiaan yang terasa. Tak ada duka, gelisah, dan cemas. Tak perlu ada benci, dengki, sombong, maupun keserakahan. Yang ada hanyalah nyanyian kegembiraan yang meluap. Bahagia, dan menyenangkan.

Ah.. inikah yang dinamakan surga…. Entahlah. Masih saja kurasakan ekstase yang menghanyutkan ini. Aku mulai terbayang dengan mimpiku tadi. Mimpi tentang kekosongan. Kali ini, aku seolah merasakannya untuk yang kedua kalinya. Saat ini. Saat seluruh kesegaran udara dari laut seberang yang dibawa sang angin memasuki dan memenuhi setiap rongga di sekujur tubuhku. Saat jiwa-jiwa seluruh makhluk yang ada di depanku ini masuk di kedalaman jiwaku. Menyatu dan satu. Jiwa-jiwa yang memenuhi ruang kosong jagad raya, masuk dengan lembut dan cepat ke dalam ruang jiwaku. Dan jiwaku pun masuk di seluruh ruang jiwa mereka. Hingga semuanya serasa menyatu dan satu dengan kekosongan. Kosong yang tenang dan membahagiakan.

Apakah aku sedang mengalami de javu ? Keadaan dan perasaan yang sama, kualami secara berulang. Tapi sepertinya ini bukan de javu. Yang satu, mimpi. Yang ini, nyata. Tapi apa beda mimpi dan nyata, jika jiwa mengalami kebahagiaan yang sama. Entah apa yang sedang kualami ini. Bahkan di tengah keherananku ini, aku masih tak tahu apakah aku masih ada di dunia ini atau tidak. Hembusan angin semakin menerbangkan jiwaku memasuki dimensi tanpa batas. Aku telah kehilangan orientasi. Di mana aku? Kucoba pejamkan mata, kuhembuskan nafasku pelan untuk menyadari akan eksistensi diri, dan membumikan kesadaranku. Aku adalah Xulian. Xuliaan. Aku adalah seorang penggembala. Penggembala kambing. Kambing… kambingku… tiga. Kambiiing… siapa kambing? Dimana kambing? Kambingku!!!!…. aku pun tersentak kaget!

Dan aku terbangun. … tuk kedua kalinya.

Kambing… kambingku… dimana??
Sepi… hening… tak ada kambing.

… Pfiuuhhh…. Apa yang barusan terjadi? Apakah aku mimpi? Mimpi….. aku barusan bermimpi. Mimpi yang sangat nyata. Mungkinkah sekarang aku masih bermimpi? Jangan-jangan, semuanya mimpi.

Sesaat aku diam dan terpaku. Mencoba sadar akan lingkungan sekitar. Tampak semua benda di sekitarku terlihat lebih hidup, lebih dekat, dan seperti… berpendar menyala. Penglihatanku sepertinya lebih terang dan tajam menatap semua obyek di alam ini. Hamparan ladang di depanku tampak hijau berkilaun. Mentari berada di sisi belakangnya, condong di ufuk barat. Perpaduan obyek yang serasi.

Dari kejauhan sayup-sayup terlihat tiga binatang sedang merumput. Sepertinya itu kambing. Ya.. kambingku. Yapp….aku yakin. Pasti ini bukan mimpi.



Leave a Reply

:D :? ^.^ :) :() :( :?! :! :_: <_* <_> :?? :p ^x^ +_+ :sip: more »