Makrokosmos

xulian-lima2Peristiwa yang terjadi di kampung sebelah selama beberapa minggu kemarin, masih menjadi trauma bagi warga termasuk di kampungku. Kami sangat mencemaskan kedatangannya. Angin puyuh telah beberapa kali mengusik kenyamanan kami. Dan terakhir, kedatangannya telah merenggut saudara kami. Itu adalah kedatangannya yang paling menakutkan.

Biasanya angin puyuh menyapu beberapa persawahan dan tidak memakan korban manusia. Tetapi pada akhirnya ia pun merambat masuk ke perkampungan. Seolah-olah ia tidak puas kalau hanya memakan tanaman-tanaman yang ada di persawahan. Ia pun mulai haus darah manusia. Sungguh, ia adalah makhluk yang buas dan tidak bisa diajak kompromi. Sangat boleh jadi,mereka akan merambat mendatangi kami. Entah pada seorang bayi, nenek tua, ibu hamil, anak-anak, atau bahkan kepadaku. Siapapun bisa diambilnya. Tanpa ada perlawanan sedikit pun.

Angin. Kenapa ia tampak mengerikan. Tak bisakah ia menjadi sosok seperti yang ada dalam mimpiku. Kini, ia sudah mengambil jarak dengan manusia, dan sepertinya ia sudah menganggap manusia sebagai musuhnya. Angin, menjadi makhluk yang lebih menakutkan dari hantu dan peranakannya sekalipun. Ia bisa datang di siang bolong. Atau di malam hari saat semua manusia sedang terlelap tidur. Ia bisa datang lebih liar dan ganas berbarengan dengan deru hujan lebat, dengan iringan halilintar yang menggedor-gedor atap langit hitam, dan … ngeri.

Persekongkolan jagad  raya itu mengkoyak-koyak ketidakberdayaan manusia. Persekongkolan itu membuat para manusia seperti kelinci lemah yang menggigil ketakutan bersembunyi dari sergapan serigala. Sangat lemah dan memilukan. Apa daya manusia menghadapi persengkongkolan itu. Alam yang tampak sangat keibuan dan penuh kerelaan, berubah menjadi sosok yang lebih liar, kejam, dan menakutkan dari makhluk apapun yang ada di jagad  raya. Manusia hanya debu hina yang siap dihempas dan dibuang kemanapun.

Apa arti manusia bagi alam. Manusia hanya makhluk kecil dibandingkan dengan jagad  raya yang terhampar tak terbatas. Manusia hanya ceceran titik debu yang menempel di permukaan bola bumi. Sedangkan bumi hanyalah satu titik debu dari milyaran debu yang bertebaran di galaksi bimasakti. Sedangkan bimasakti hanyalah satu titik debu dari milyaran gugusan galaksi-galaksi yang memenuhi langit pertama. Sedangkan langit pertama adalah langit terendah dari tujuh lapis langit yang menyangga kerajaan Tuhan. Lalu, dimana lagi manusia berada?

Betapa kecilnya manusia di hadapan alam. Dan terlalu kecil sekali untuk berada di hadapan Tuhan. Tuhan sebagai pencipta, pemilik, dan penguasa jagad raya ini. Tentu termasuk pemilik manusia. Jika demikian, lalu untuk apa manusia saling berebut kekuasaan dan harta, sampai-sampai menimbulkan pertikaian dan pertumpahan darah di antara sesamanya. Saling membunuh, saling menghujat, saling membenci, saling hantam. Merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih suci, lebih tampan, lebih cantik. Untuk apa semuanya itu, jika pada akhirnya manusia-manusia menjadi debu tak berharga yang siap dihempas dan dibuang oleh persekongkolan alam. Keangkuhan, kesombongan, dan keserakahan sangat tidak patut dimiliki oleh  makhluk lemah bernama manusia. Sifat yang seharusnya di singkirkan jauh-jauh dari benak manusia, agar kehidupannya sesuai pada takarannya. Biarkan sifat-sifat itu dimiliki yang lebih berhak, yang memang memiliki kekuatan dan kebesaran yang tiada batas. Tuhan, hanya Dia yang pantas.

Sekian lamanya aku termenung di bawah pohon nangka ini. Kulihat kambing-kambingku malah asyik menikmati hidangan hijau di depan hidungnya. Rumput yang tampak hijau dan segar. Kepasrahan rerumputan ini patut dihargai. Ia pasrah menerima takdirnya. Menjadi santapan bagi kambing. Terkadang ia juga menjadi makhluk hina yang diinjak-injak oleh kaki sang kambing yang sangat kotor. Bahkan seringkali menjadi tempat buangan kotoran kambing. Begitu hinanya. Tapi ia menerima begitu saja, tanpa ada protes, tanpa ada tangis. Ia menjalaninya, tanpa meminta syarat ataupun imbalan. Kehinaan itu, ia terima begitu saja.

Hhaaaaaaaahhh……. Kenapa aku musti peduli dengan itu semua. Tak bisakah aku menjalani kehidupanku sendiri. Kenapa aku mesti melihat keluar. Kepada kambing, kepada rumput, kepada angin, kepada manusia-manusia. Aku… bodoh. Aku terlalu serius melihat kejadian yang silih berganti berkelebat di depan mataku, dan tak pernah bisa kupahami. Seolah aku menyaksikan panggung teater raksasa yang tiada akhirnya, dan menyedot perhatianku terus-menerus. Membuatku semakin dungu dengan ini semua.

Tidak. Aku harus hentikan. Aku hanya ingin melihat diriku. Melihat kesenanganku. Melihat tawa dan kekonyolanku. Ke dalam ruang batin yang hanya ada aku. Tapi ada apa di dalam sana.  Kalaupun aku melihat ke dalam, memangnya apa yang akan kusaksikan. Bukankah itu  juga sama saja aku menyaksikan panggung teater dalam setting yang sedikit beda. Dan tentunya lebih gelap. Lalu apa peranku di sana?

Aku tidak puas dengan ini semua. Aku ingin menjadi peran yang lebih dari ini. Tapi peran apa? Aku tidak ingin menjadi manusia-manusia pada umumnya. Manusia yang berperan sebagai penjarah, sebagai yang dijarah, pembunuh, sebagai yang dibunuh, penguasa, sebagai yang dikuasai. Ahh… untuk apa peran-peran itu.

Sebagai penggembala kambing. Haha… mungkin hanya inilah pilihanku. Tapi, ini peran yang tidak membuatku merasa cukup. Lalu peran apa yang bisa membuatku merasa cukup? Aku butuh seseorang yang bisa memberikan jawaban. Kambing-kambingku. Bisakah mereka memberiku jawaban. Nenek.. tak bisa juga. Kaila, juga tidak. Siapa lagi yang bisa memberiku jawaban. Aku butuh jawaban. Tapi apa ? Siapa?



One Response to “Makrokosmos”

  1. zee says:

    Hmmm kurang puas jadi penggembala kambing, mungkin harus pergi ke kota :D

Leave a Reply

:D :? ^.^ :) :() :( :?! :! :_: <_* <_> :?? :p ^x^ +_+ :sip: more »