Kehilangan

xulian-empat2Di kejauhan kudengar kicauan burung yang saling bersautan, seperti sedang bernyanyi. Kubuka pelan kelopak mataku yang masih malas untuk melihat langit-langit kamar. Agak remang kulihat dua ekor cicak di dinding yang sedang berkejaran.

Semalam aku tidur sangat nyenyak. Dan sekarang aku merasa sangat nyaman. Ada dua ekor cicak yang menemani, dan kicauan burung sedang menyambut pagiku. Kesegaran udara menambah suasana semakin menyenangkan. Berharap untuk tidak melewatkan satu detik pun suasana seperti ini. Aku yakin, cuaca cukup cerah.

Aku sangat menyukai aroma pagi. Wangi embun, hawa rerumputan basah, sapa sinar hangat dari timur, dan angin pagi yang lembut. Tak ada duka, tak ada ragu, nyaman dan tenang. Mungkin, inikah yang dinamakan bahagia. Apakah Nizar Kailani tidak pernah merasakan suasana seperti ini. Bagaimana mungkin ia tidak bisa menemukan sesuatu yang dinamakan bahagia. Sangat mudah menemukannya.

Bahagia ada di sekitar setiap orang. Sangat dekat. Karenanya kebahagiaan tidak perlu dicari. Semakin dicari ia semakin jauh.  Kebahagiaan tak memerlukan syarat, ataupun alat. Sadari, resapi, hirup, dan rasakan bahagia itu. Maka ia akan datang. Harusnya kata-kata ini yang aku katakan kepadanya, saat kemarin ia menanyakan tentang kebahagiaan. Tapi kenapa munculnya baru sekarang. Moga  lain waktu aku tidak akan lupa mengatakan kepadanya.

Huuupppp …. aku harus bangun.

…………………………………………………………………

Rumah Kaila berjarak cukup jauh dari rumahku. Perlu waktu yang cukup lama untuk sampai ke rumahnya. Apalagi aku bersama nenek. Jadi musti berjalan agak pelan agar ia tidak tertinggal. Hampir satu jam kami berjalan.

Akhirnya sampai juga di rumahnya. Tampak rumah Kaila dipenuhi warga kampung yang turut berduka cita atas kematian kakaknya. Walaupun kebanyakan warga kampung sini tidak terlalu menyukai sifat ayah Kaila yang sombong dan pelit, tapi untuk urusan kematian, warga kampung sini masih sangat peduli dan terasa suasana kekeluargaan. Tidak membedakan kaya-miskin, baik-jahat, tua-muda. Semua batas-batas itu seolah sirna dan berganti dengan sifat kepedulian. Kurasa kematian adalah tali kehidupan yang merajut benang-benang perbedaan itu agar menjadi harmoni dan kembali pada sifat dasarnya, kemanusiaan.

Aku dan nenek dipersilakan duduk oleh salah seorang kerabat Kaila. Kulihat Kaila ada di dalam,  dan sedang duduk dekat dengan kain putih yang membungkus tubuh kakaknya. Kuharap ia tetap bisa tabah. Suasana di sini cukup senyap dan penuh haru. Hanya ada beberapa suara isakan tangis keluarga dan kerabat Kaila, dan bacaan doa-doa yang diharapkan dapat mengiringi perjalanan arwah. Tamu-tamu yang datang tidak banyak bercakap dan lebih memilih diam, dengan sedikit menyimak doa-doa. Di sisi lain, beberapa warga sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk mengkebumikan jenazah.

Kematian memang sakit dan menyakitkan. Siapapun tidak ingin ditinggalkan oleh orang terdekatnya. Merasa kehilangan adalah sumber kedukaan. Rasa kehilangan muncul kalau apa yang kita miliki hilang. Tapi apa yang sebenarnya kita miliki. Orang-orang terdekat kita tidak pernah bisa kita miliki. Ia hanya dekat. Tidak pernah bisa menjadi hak milik kita. Mengapa ada rasa kehilangan, kalau ia bukan milik kita. Lepaskan semua ikatan kemelekatan, biarkanlah segala sesuatunya mengalir dengan sendirinya tanpa ada tali-temali yang mengikatnya.

Tentu kehidupan akan terasa jauh lebih ringan jika tidak ada sesuatu yang terikat. Kesenangan tidak perlu dikejar, karena justru akan menjadi keterikatan. Kesedihan tidak perlu dihindari, karena justru akan menjadi keterikatan. Keterikatan akan memunculkan kehilangan. Makanya, lepaskanlah segala keterikatan. Agar hidup kita lebih tenang. Dengan begitu, kebahagiaan akan memenuhi ruangan hidup kita. Ia akan datang dengan sendirinya. Memenuhi gelas kosong yang telah kita sediakan dalam jiwa kita. Bisakah aku katakan hal ini kepada Kaila, agar hatinya sedikit terhibur. Yaah… menghiburnya. Tapi, aku ragu. Kata-kataku ini bisa saja malah membuatnya lebih bingung dan semakin sedih.

Kurasa, nenek adalah orang yang paling paham dengan pandanganku itu. Ia telah membuktikan dirinya tidak pernah merasa memiliki sesuatu apapun. Setidaknya itu yang kulihat. Termasuk anaknya, termasuk cucunya. Semua yang ada hanyalah titipan. Saat ayah ibuku meninggal, nenek tidak merasa kehilangan dan seolah ia sudah menyiapkan segala sesuatu untuk kepergian mereka berdua. Tapi, aku tidak tahu bagaimana jika nenek tiba-tiba meninggalkanku. Aku tak tahu bagaimana aku harus menghadapi kenyataan itu, yang pastinya suatu saat akan datang. Sangat sulit untuk tidak merasa memiliki. Karena sesuatu yang dekat, serasa milik kita. Walaupun aku bisa mengungkap pandangan ini, tetapi aku belum tentu sanggup menjalaninya. Hidup tidak cukup untuk direnungkan. Tetapi harus dijalani. Harus dialami. Barulah bisa menemukan hakekat kehidupan yang sejati. Ahh.. kenapa pikiranku tidak mau berhenti.

Sebaiknya aku menemui Kaila. Walaupun aku masih bingung kata-kata  apa yang akan aku sampaikan kepadanya, tapi aku harus menemaninya. Yap, itu akan lebih baik daripada aku duduk disini saja. Siapa tahu kehadiranku bisa sedikit menenangkan dukanya. Kehadiran tanpa kata. Kehadiran yang penuh rasa. Kurasa itu alasan yang tepat. Tapi aku agak takut dan kurang nyaman dengan ayahnya.

“Nek, bolehkah aku menemui Kaila?“ tanyaku kepada nenek.
“Yaa… temanilah. Ia butuh teman….” jawab nenek.

Dengan sedikit ragu, aku melangkah masuk ke dalam ruangan, tempat Kaila dan keluarganya berkumpul mengitari jenazah yang sebentar lagi akan dikebumikan. Kaila pun menoleh dan memandangku dengan tatapan yang agak kosong. Tampak sangat sedih. Lalu, ia memintaku untuk duduk disampingnya.  Terdengar suara setengah berbisik dari mulutnya.

“Aku ingin membagi duka padamu. Kamu mau kan?” Katanya.

Ia berkata disertai isakan  tangis dan lelehan air mata. Intonasi suaranya jauh lebih dalam  dibanding kemarin saat ia memintaku untuk berbagi kebahagiaan dengannya. Aku hanya bisa mengangguk pelan, sambil mengambil tempat duduk di sampingnya.

Perlahan, aku jadi ikut terharu dan hanyut dalam dukanya. Tak terasa, kedua mataku pun mulai berkaca-kaca. Kesedihan yang mulai kurasakan ini mengingatkanku pada duka yang kualami saat kedua orang tuaku meninggal. Rasa kehilangan yang sangat. Perasaan sedih, patah, lunglai, takut, hampa, dan beribu rasa tidak menentu menyesaki rongga dada. Semuanya membeku dan kering. Hanya air mata yang sanggup menggerakkan alirannya. Membasahi dinding-dinding kesunyian. Air mata sebagai letupan-letupan jiwa yang terpaksa bertahan hidup dalam labirin yang gelap, sempit, dan buntu.

Kaila telah berhasil membagi dukanya padaku. Kuharap separuh dukanya sudah berkurang. Sekian lamanya aku duduk menemaninya. Aku melirik Kaila yang masih diam tertunduk di sampingku. Duka itu masih ada, tapi aku melihat dia lebih baikan. Ingin sekali aku mencoba membagi ketenangan dan kebahagiaan kepadanya. Tapi suasana masih saja membungkam gerakku.

Hingga pada akhirnya jenazah itu dibawa, dan diusung untuk dikebumikan.



One Response to “Kehilangan”

Leave a Reply

:D :? ^.^ :) :() :( :?! :! :_: <_* <_> :?? :p ^x^ +_+ :sip: more »