<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Xulian &#124; sebuah draft novel</title>
	<atom:link href="http://fiksi.elmoudy.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fiksi.elmoudy.com</link>
	<description>Xulian</description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Feb 2010 11:04:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.2</generator>
		<item>
		<title>Hutan</title>
		<link>http://fiksi.elmoudy.com/hutan</link>
		<comments>http://fiksi.elmoudy.com/hutan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 09:51:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chapter 06 : Xulian]]></category>
		<category><![CDATA[hutan]]></category>
		<category><![CDATA[saleek]]></category>
		<category><![CDATA[siffu]]></category>
		<category><![CDATA[xulian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fiksi.elmoudy.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Kambing yang paling kecil menghampiriku. Ia menghenduskan hidungnya ke mukaku. Ia ingin aku membelai kepalanya dan mengajaknya bermain. Segera kuayunkan tanganku dan mengusap-usap hidung dan kepalanya. Ia tampak senang dan semakin mendekatkan kepalanya ke tubuhku. Lalu kambing-kambingku yang lain turut mendekatiku dan mengerubungiku. Mereka bertiga mengajaku bermain. Kambing yang paling tua mengangkat kedua kaki depannya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2010/02/xulian-enam2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-105" style="border: 0pt none; margin: 0px 5px;" title="xulian-enam2" src="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2010/02/xulian-enam2.jpg" alt="xulian-enam2" width="268" height="380" /></a>Kambing yang paling kecil menghampiriku. Ia menghenduskan hidungnya ke mukaku. Ia ingin aku membelai kepalanya dan mengajaknya bermain. Segera kuayunkan tanganku dan mengusap-usap hidung dan kepalanya. Ia tampak senang dan semakin mendekatkan kepalanya ke tubuhku. Lalu kambing-kambingku yang lain turut mendekatiku dan mengerubungiku. Mereka bertiga mengajaku bermain.</p>
<p>Kambing yang paling tua mengangkat kedua kaki depannya dan ingin naik ke pundakku. Satunya lagi mencoba menghalanginya dengan menyerudukkan tanduknya ke bagian belakang tubuh kambing yang paling tua.  Kambing yang paling tua jengkel melihat adiknya yang bersikap kurang ajar terhadapnya. Ia coba membalas kelakuan adiknya itu. Dan mereka saling adu tanduk. Si kambing yang paling kecil hanya bisa menatap kedua kakaknya yang sedang bertarung  mempertahankan keperkasaan tanduknya masing-masing. Akhirnya kambing yang lebih muda mengaku kalah dan lari meninggalkan kakaknya. Tapi si kakak tertua mengejarnya dan berusaha menaikkan kedua kakinya kebagian belakang tubuh adik pertamanya. Lalu si kambing yang paling kecil ikut berlarian mengejar kedua kakaknya dan menaikkan kedua kakinya di bagian belakang  tubuh kakak tertua. Tampaklah mereka bertiga bermain kuda-kudaan. Haa….hhaa.. mereka tampak senang sekali.</p>
<p>Beberapa saat kemudian aku berdiri dan menghampiri mereka yang  masih bermain kuda-kudaan. Aku pegang tali yang menggelantung di leher kambing tertua dan menggiringnya untuk aku ajak jalan-jalan. Dan kedua adiknya pun turut mengikuti kakak tertuanya dari belakang.</p>
<p>&#8220;Hari ini aku akan membawa kalian jalan-jalan ke hutan. Sudah lama kita tidak kesana. Di sana banyak hidangan segar yang kalian tidak akan pernah bosan-bosannya untuk melahapnya. Hutan. Disana banyak rumput dan dedaunan. Di sana juga ada buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Ada banyak pepohonan dengan rimbunan daun sehingga suasananya tampak sangat sejuk. Ada sungai-sungai yang mengalir dengan jernih dan iringi kicauan burung-burung yang saling bersautan menyanyikan suara-suara alam. Kuharap kalian bisa menikmati suasana itu. Yaa… paling tidak perut kalian akan penuh dengan rerumputan dan dedaunan yang ada di sana. &#8221; gumamku sendirian.</p>
<p>Kambing-kambingku hanya bisa diam, sesekali menolehku dan seolah mereka ingin memberikan kata persetujuan atas percakapanku itu.</p>
<p>Akhirnya sampai juga. Terakhir aku mengunjungi hutan ini tiga bulan yang lalu. Aku cukup terpaku melihat perubahan yang terjadi. Keadaan benar-benar sangat berbeda. Sekarang, banyak pepohonan yang hilang. Buah-buahan pun sudah mulai jarang dan tampak tidak sehat. Hanya rerumputan liar saja yang masih belum berubah.  Kenapa dengan hutan ini. Sepertinya ada yang sengaja merusaknya.</p>
<p>Sayang sekali. Kenapa masih saja ada manusia yang tidak bisa menikmati keindahan. Kenapa manusia lebih suka kerusakan dan kebobrokan. Mereka telah mengganti keindahan dengan kebobrokan. Apa maunya mereka ini. Mereka mengakunya punya peradaban yang lebih tinggi, justru membutakan matanya sendiri dengan merusak tataan alam ini. Keanehan macam apa ini. Dimana letak peradaban mereka itu. Manusia yang beradap mestinya cinta dengan keindahan. Tapi mereka malah menghancurkan. Mungkinkah mereka punya sesuatu yang lebih indah dari apa yang sudah tersedia di alam ini.</p>
<p>“Hai… anak muda, kenapa kau berdiri di tengah jalan!” terdengar suara pak tua dari belakang. Suaranya agak berat, dan terdengar cukup ngos-ngosan.</p>
<p>Aku terkejut dan menoleh berbalik ke belakang. Terlihat seorang laki-laki seusia 50-an, dan ia sedang membawa gerobak ke arahku, di belakangnya ada beberapa gelondong kayu besar.</p>
<p>“Oh…maaf!” jawabku singkat sambil melangkah ke samping.</p>
<p>Lalu kulihat ia menghentikan langkahnya dan menyeka keringatnya yang membasahi mukanya. Sepertinya ia ingin istirahat dari perjalanan yang cukup melelahkan.</p>
<p>“Anak muda, bolehkah aku minta air seteguk!” ia menghampiriku sambil menjulurkan tangannya seolah aku akan memberikan airku kepadanya.<br />
“Boleh, ini ambillah” jawabku. Kuharap ia tidak akan menghabiskannya. Lalu ia pun meneguknya.</p>
<p>“Terima kasih, anak muda. Kalau boleh tahu, dari mana asalmu?” tanyanya.<br />
“Aku dari kampung Nagalima” jawabku singkat.</p>
<p>“Nagalima..” balasnya pelan, sambil melepas tali gerobaknya.<br />
“Kebanyakan anak-anak muda di kampung Nagalima merantau ke kota untuk berdagang dan belajar. Kenapa kamu malah jadi pengembala kambing?” tanyanya yang sedikit memojokanku.</p>
<p>“Entahlah. Aku belum ingin keluar dari kampungku. Rasanya ada sesuatu yang perlu aku cari di sini.” jawabku.</p>
<p>“Apa lagi yang kau cari anak muda. Siapapun tahu anak seusiamu perlu belajar ke kota dan mencari nafkah agar nantinya bisa hidup kaya dan bahagia. Apa kamu ingin hidup susah terus? Menjadi pengembala kambing sampai tua dan mati?” balasnya, dan ia semakin memojokkanku.</p>
<p>“Entahlah… suatu saat mungkin aku menyusul mereka. Tapi ada sesuatu yang perlu kuselesaikan di sini. Setelah aku selesai dengan urusanku, aku akan berpetualang meninggalkan kampung halamanku.”  aku agak kebingungan dengan apa yang barusan aku katakan ini.</p>
<p>“Hei… anak muda. Kamu tidak usah banyak berkhayal. Aku beritahu ya. Dulu sewaktu aku masih seusiamu,  aku hidup santai-santai saja. Tidak pernah mau bekerja keras. Banyak berkhayal. Hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Menikmati masa-masa muda dengan kesenangan sementara. Dan diusiaku sekarang ini aku hanya bekerja sebagai penarik gerobak kayu. Setiap hari hanya ini yang kukerjakan. Upah yang kuperoleh pun tak seberapa. Hanya cukup untuk biaya  makan istri dan anak. Apa kamu ingin bernasib sepertiku ini?</p>
<p>Cobalah untuk lebih semangat dan bekerja keras. Kambing yang kamu gembalakan ini  tidak akan cukup untuk membiaya masa depanmu. Masa depan tidak cukup hanya dengan kambing saja. Paling-paling kambingmu ini dalam satu-dua tahun hanya beranak dua-tiga ekor saja. Dan mungkin akan kamu jual untuk keperluan sehari-hari. Lalu kamu punya apa? Uangmu akan habis untuk biaya makan. Belum lagi nanti kalau kamu hendak melamar anak gadis dan menikahinya. Dengan apa kamu akan membiayai itu semua. Setelah punya istri lalu punya anak. Akan kamu beri makan apa mereka itu. Cobalah berfikir lebih jauh.</p>
<p>Aku punya anak seusiamu. Ia sudah tiga tahun merantau ke kota. Dan ia cukup berhasil di sana. Ia sekarang berdagang batu mulia bersama dengan majikannya yang sangat kaya-raya. Jika mau, akan kenalkan kamu dengannya.” jelasnya.</p>
<p>Aku cukup kebingungan menanggapi ocehannya.<br />
“Entahlah… aku tidak tahu. Lalu kenapa bapak tidak ikut saja dengan anak bapak di kota?” Aku coba peduli dengan ocehannya.</p>
<p>“Yaahh…. Aku sudah cukup dengan pekerjaan ini. Aku sudah cukup tua. Mungkin aku sama denganmu. Aku lebih suka tinggal di kampung dan di hutan. Aku sudah merasa senang anakku sudah bisa hidup mandiri di kota. Dan pekerjaanku ini sudah cukup untuk memberi makan keluarga. Sebagai orang tua pasti akan sangat bangga jika anaknya berhasil dan kaya-raya. Yahh… itulah kebahagiaan bagi orang tua. Bagaimana dengan orang tuamu?” tanyanya agak simpatik.</p>
<p>“Kedua orang tuaku sudah meninggal. Mereka meninggal saat mereka sedang merantau ke kota selama beberapa bulan. Dan saat hendak pulang ke kampung, mereka mengalami musibah hingga pada akhirnya mereka sampai ke rumah dalam keadaan damai. Tanpa gerak, tanpa nafas.” jawabku.</p>
<p>“Ohh… maaf, aku turut berduka. Apa itu sebabnya kamu tidak ingin pergi ke kota?” tanyanya agak pelan.</p>
<p>“Entahlah…. Mungkin saja” jawabku agak datar.</p>
<p>“Kenapa setiap aku tanya, jawabmu selalu entahlah. Apa kamu sedang kebingungan, anak muda?” tanyanya dengan raut muka selidik.</p>
<p>“Entahlah…. Mungkin aku bingung dengan keberadaanku sekarang. Di hutan dan bertemu pak tua sepertimu. Atau mungkin aku bingung dengan hidupku. Bisakah kau beri aku jawaban yang tepat dan singkat, bagaimana hidup itu dijalani?&#8221; Aku mulai bertanya sesuatu yang memusingkan diriku sendiri.</p>
<p>Pak tua tampak terdiam dan ia sedang menatapku… cukup dalam.</p>
<p>“Pertanyaanmu sangat sederhana sekali, anak muda. Dan aku akan memberikanmu jawaban yang sederhana juga. Hidup itu untuk di jalani dengan apa adanya dan sebaik-baiknya. Jika saat ini kamu punya kambing, gembalakan mereka dengan baik. Jika kamu punya anak nanti, didik mereka dengan baik. Jika kamu punya nenek, sayangilah ia dengan baik. Jika kamu punya teman, bergaullah dengan baik. Begitulah kira-kira hidup.”</p>
<p>Bapak ini memberikan jawaban yang sangat gamblang sekali. Sekilas, aku cukup tertegun dengan apa yang barusan dikatakannya. Sekaligus tambah bingung. Sepertinya ia kurang yakin dengan apa yang barusan dikatakannya. Pandangannya dengan kebahagiaan hampir sama denganku. Tetapi raut mukanya menampakkan keraguan. Kenapa pula ia hanya sebagai penarik gerobak kayu? Cukupkah kehidupan dijalani hanya dengan menarik gerobak? Hahh.. aku memutarbalikkan kaya-katanya.</p>
<p>“Anak muda, siapa namamu?” ia tiba-tiba menanyakan sesuatu yang lebih pribadi.<br />
“Namaku Xulian. Dan aku harus menanggil bapak apa?” aku balik nanya.</p>
<p>“Panggil aku Saleek. Xulian.. kayaknya kamu tidak puas dengan jawabanku. Aku cukup senang dengan anak muda sepertimu. Yang selalu mencari jawaban tentang hidup. Tapi kamu jangan terlena dengan keadaanmu ini. Kamu pun harus segera bergegas untuk bangkit dan lari sekencang-kencangnya. Segera kau temukan apa yang kau cari itu. Mungkin aku tidak banyak membantumu. Tapi aku bisa memberimu petunjuk. Kamu bisa menemui seseorang yang bernama siffu. Ia seorang pemahat patung. Usianya lebih tua dariku. Ia adalah seorang yang bijak. Temuilah ia. Ia tinggal dikampung sebelahmu. Beberapa minggu kemarin rumahnya hampir tersapu angin puyuh.</p>
<p>Dan sekarang aku akan meneruskan perjalananku. Seseorang sudah menungguku di pasar. Terima kasih atas airnya, Xulian!” selesai ia bicara segera bergegas menuju ke gerobaknya.</p>
<p>“Sama-sama. Terima kasih juga!” jawabku.</p>
<p>Bapak yang menyebut dirinya Saleek itu segera menarik gerobaknya. Awalnya ia tampak keberatan menarik gerobak yang berisi gelondongan kayu. Lambat laun ia bisa berjalan lebih cepat. Ia hendak membawanya ke pasar untuk dilual kepada seorang makelar kayu. Biasanya kayu itu akan dibawa ke kota dan diolah menjadi perabotan rumah. Kurasa bapak ini bukanlah termasuk golongan manusia yang suka menebang kayu seenaknya. Kayu yang dibawanya berasal dari pohon-pohon tua yang mungkin sudah tumbang, kemudian ia potong-potong lalu dibawanya ke pasar.</p>
<p>Berbeda dengan para penebang kayu pada umumnya. Biasanya mereka dikomandai dan dibayar oleh seseorang mandor dari  kota. Mereka melakukan penebangan secara besar-besaran demi mendapatkan keuntungan yang banyak.  Merekalah yang telah  menjarah dan merusak hutan ini. Semula aku hanya mendengar berita tentang mereka dari nenekku. Dan sekarang aku menyaksikan akibat dari ulah mereka terhadap hutan ini. Hutan ini sudah kehilangan keindahannya. Dan Saleek mungkin sebentar lagi akan kehilangan pekerjaannya karena hutan-hutan ini akan sangat cepat musnah ditebangi. Dan dalam keadaan terpaksa, bisa saja ia akan bergabung dengan kelompok penjarah ini.</p>
<p>Siffu. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi entah dimana. Namanya serasa tidak asing lagi terdengar di telingaku. Entah kenapa aku cukup tertarik dengan nama itu. Sepertinya aku perlu menemuinya. Mungkin saja ia bisa memberiku jawaban. Besok pagi sebelum aku menggembala kambing, aku akan menemuinya. Moga saja ia ada di rumah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fiksi.elmoudy.com/hutan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makrokosmos</title>
		<link>http://fiksi.elmoudy.com/makrokosmos</link>
		<comments>http://fiksi.elmoudy.com/makrokosmos#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 02:27:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chapter 05 : Xulian]]></category>
		<category><![CDATA[makrokosmos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fiksi.elmoudy.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa yang terjadi di kampung sebelah selama beberapa minggu kemarin, masih menjadi trauma bagi warga termasuk di kampungku. Kami sangat mencemaskan kedatangannya. Angin puyuh telah beberapa kali mengusik kenyamanan kami. Dan terakhir, kedatangannya telah merenggut saudara kami. Itu adalah kedatangannya yang paling menakutkan. Biasanya angin puyuh menyapu beberapa persawahan dan tidak memakan korban manusia. Tetapi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2010/01/xulian-lima2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-77" style="border: 0pt none; margin: 0px 5px;" title="xulian-lima2" src="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2010/01/xulian-lima2.jpg" alt="xulian-lima2" width="268" height="380" /></a>Peristiwa yang terjadi di kampung sebelah selama beberapa minggu kemarin, masih menjadi trauma bagi warga termasuk di kampungku. Kami sangat mencemaskan kedatangannya. Angin puyuh telah beberapa kali mengusik kenyamanan kami. Dan terakhir, kedatangannya telah merenggut saudara kami. Itu adalah kedatangannya yang paling menakutkan.</p>
<p>Biasanya angin puyuh menyapu beberapa persawahan dan tidak memakan korban manusia. Tetapi pada akhirnya ia pun merambat masuk ke perkampungan. Seolah-olah ia tidak puas kalau hanya memakan tanaman-tanaman yang ada di persawahan. Ia pun mulai haus darah manusia. Sungguh, ia adalah makhluk yang buas dan tidak bisa diajak kompromi. Sangat boleh jadi,mereka akan merambat mendatangi kami. Entah pada seorang bayi, nenek tua, ibu hamil, anak-anak, atau bahkan kepadaku. Siapapun bisa diambilnya. Tanpa ada perlawanan sedikit pun.</p>
<p>Angin. Kenapa ia tampak mengerikan. Tak bisakah ia menjadi sosok seperti yang ada dalam mimpiku. Kini, ia sudah mengambil jarak dengan manusia, dan sepertinya ia sudah menganggap manusia sebagai musuhnya. Angin, menjadi makhluk yang lebih menakutkan dari hantu dan peranakannya sekalipun. Ia bisa datang di siang bolong. Atau di malam hari saat semua manusia sedang terlelap tidur. Ia bisa datang lebih liar dan ganas berbarengan dengan deru hujan lebat, dengan iringan halilintar yang menggedor-gedor atap langit hitam, dan … ngeri.</p>
<p>Persekongkolan jagad  raya itu mengkoyak-koyak ketidakberdayaan manusia. Persekongkolan itu membuat para manusia seperti kelinci lemah yang menggigil ketakutan bersembunyi dari sergapan serigala. Sangat lemah dan memilukan. Apa daya manusia menghadapi persengkongkolan itu. Alam yang tampak sangat keibuan dan penuh kerelaan, berubah menjadi sosok yang lebih liar, kejam, dan menakutkan dari makhluk apapun yang ada di jagad  raya. Manusia hanya debu hina yang siap dihempas dan dibuang kemanapun.</p>
<p>Apa arti manusia bagi alam. Manusia hanya makhluk kecil dibandingkan dengan jagad  raya yang terhampar tak terbatas. Manusia hanya ceceran titik debu yang menempel di permukaan bola bumi. Sedangkan bumi hanyalah satu titik debu dari milyaran debu yang bertebaran di galaksi bimasakti. Sedangkan bimasakti hanyalah satu titik debu dari milyaran gugusan galaksi-galaksi yang memenuhi langit pertama. Sedangkan langit pertama adalah langit terendah dari tujuh lapis langit yang menyangga kerajaan Tuhan. Lalu, dimana lagi manusia berada?</p>
<p>Betapa kecilnya manusia di hadapan alam. Dan terlalu kecil sekali untuk berada di hadapan Tuhan. Tuhan sebagai pencipta, pemilik, dan penguasa jagad raya ini. Tentu termasuk pemilik manusia. Jika demikian, lalu untuk apa manusia saling berebut kekuasaan dan harta, sampai-sampai menimbulkan pertikaian dan pertumpahan darah di antara sesamanya. Saling membunuh, saling menghujat, saling membenci, saling hantam. Merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih suci, lebih tampan, lebih cantik. Untuk apa semuanya itu, jika pada akhirnya manusia-manusia menjadi debu tak berharga yang siap dihempas dan dibuang oleh persekongkolan alam. Keangkuhan, kesombongan, dan keserakahan sangat tidak patut dimiliki oleh  makhluk lemah bernama manusia. Sifat yang seharusnya di singkirkan jauh-jauh dari benak manusia, agar kehidupannya sesuai pada takarannya. Biarkan sifat-sifat itu dimiliki yang lebih berhak, yang memang memiliki kekuatan dan kebesaran yang tiada batas. Tuhan, hanya Dia yang pantas.</p>
<p>Sekian lamanya aku termenung di bawah pohon nangka ini. Kulihat kambing-kambingku malah asyik menikmati hidangan hijau di depan hidungnya. Rumput yang tampak hijau dan segar. Kepasrahan rerumputan ini patut dihargai. Ia pasrah menerima takdirnya. Menjadi santapan bagi kambing. Terkadang ia juga menjadi makhluk hina yang diinjak-injak oleh kaki sang kambing yang sangat kotor. Bahkan seringkali menjadi tempat buangan kotoran kambing. Begitu hinanya. Tapi ia menerima begitu saja, tanpa ada protes, tanpa ada tangis. Ia menjalaninya, tanpa meminta syarat ataupun imbalan. Kehinaan itu, ia terima begitu saja.</p>
<p>Hhaaaaaaaahhh……. Kenapa aku musti peduli dengan itu semua. Tak bisakah aku menjalani kehidupanku sendiri. Kenapa aku mesti melihat keluar. Kepada kambing, kepada rumput, kepada angin, kepada manusia-manusia. Aku… bodoh. Aku terlalu serius melihat kejadian yang silih berganti berkelebat di depan mataku, dan tak pernah bisa kupahami. Seolah aku menyaksikan panggung teater raksasa yang tiada akhirnya, dan menyedot perhatianku terus-menerus. Membuatku semakin dungu dengan ini semua.</p>
<p>Tidak. Aku harus hentikan. Aku hanya ingin melihat diriku. Melihat kesenanganku. Melihat tawa dan kekonyolanku. Ke dalam ruang batin yang hanya ada aku. Tapi ada apa di dalam sana.  Kalaupun aku melihat ke dalam, memangnya apa yang akan kusaksikan. Bukankah itu  juga sama saja aku menyaksikan panggung teater dalam setting yang sedikit beda. Dan tentunya lebih gelap. Lalu apa peranku di sana?</p>
<p>Aku tidak puas dengan ini semua. Aku ingin menjadi peran yang lebih dari ini. Tapi peran apa? Aku tidak ingin menjadi manusia-manusia pada umumnya. Manusia yang berperan sebagai penjarah, sebagai yang dijarah, pembunuh, sebagai yang dibunuh, penguasa, sebagai yang dikuasai. Ahh… untuk apa peran-peran itu.</p>
<p>Sebagai penggembala kambing. Haha… mungkin hanya inilah pilihanku. Tapi, ini peran yang tidak membuatku merasa cukup. Lalu peran apa yang bisa membuatku merasa cukup? Aku butuh seseorang yang bisa memberikan jawaban. Kambing-kambingku. Bisakah mereka memberiku jawaban. Nenek.. tak bisa juga. Kaila, juga tidak. Siapa lagi yang bisa memberiku jawaban. Aku butuh jawaban. Tapi apa ? Siapa?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fiksi.elmoudy.com/makrokosmos/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehilangan</title>
		<link>http://fiksi.elmoudy.com/kehilangan</link>
		<comments>http://fiksi.elmoudy.com/kehilangan#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 02:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chapter 04 : Xulian]]></category>
		<category><![CDATA[kehilangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fiksi.elmoudy.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Di kejauhan kudengar kicauan burung yang saling bersautan, seperti sedang bernyanyi. Kubuka pelan kelopak mataku yang masih malas untuk melihat langit-langit kamar. Agak remang kulihat dua ekor cicak di dinding yang sedang berkejaran. Semalam aku tidur sangat nyenyak. Dan sekarang aku merasa sangat nyaman. Ada dua ekor cicak yang menemani, dan kicauan burung sedang menyambut [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2010/01/xulian-empat2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-69" style="border: 0pt none; margin: 0px 5px;" title="xulian-empat2" src="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2010/01/xulian-empat2.jpg" alt="xulian-empat2" width="268" height="380" /></a>Di kejauhan kudengar kicauan burung yang saling bersautan, seperti sedang bernyanyi. Kubuka pelan kelopak mataku yang masih malas untuk melihat langit-langit kamar. Agak remang kulihat dua ekor cicak di dinding yang sedang berkejaran.</p>
<p>Semalam aku tidur sangat nyenyak. Dan sekarang aku merasa sangat nyaman. Ada dua ekor cicak yang menemani, dan kicauan burung sedang menyambut pagiku. Kesegaran udara menambah suasana semakin menyenangkan. Berharap untuk tidak melewatkan satu detik pun suasana seperti ini. Aku yakin, cuaca cukup cerah.</p>
<p>Aku sangat menyukai aroma pagi. Wangi embun, hawa rerumputan basah, sapa sinar hangat dari timur, dan angin pagi yang lembut. Tak ada duka, tak ada ragu, nyaman dan tenang. Mungkin, inikah yang dinamakan bahagia. Apakah Nizar Kailani tidak pernah merasakan suasana seperti ini. Bagaimana mungkin ia tidak bisa menemukan sesuatu yang dinamakan bahagia. Sangat mudah menemukannya.</p>
<p>Bahagia ada di sekitar setiap orang. Sangat dekat. Karenanya kebahagiaan tidak perlu dicari. Semakin dicari ia semakin jauh.  Kebahagiaan tak memerlukan syarat, ataupun alat. Sadari, resapi, hirup, dan rasakan bahagia itu. Maka ia akan datang. Harusnya kata-kata ini yang aku katakan kepadanya, saat kemarin ia menanyakan tentang kebahagiaan. Tapi kenapa munculnya baru sekarang. Moga  lain waktu aku tidak akan lupa mengatakan kepadanya.</p>
<p>Huuupppp &#8230;. aku harus bangun.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Rumah Kaila berjarak cukup jauh dari rumahku. Perlu waktu yang cukup lama untuk sampai ke rumahnya. Apalagi aku bersama nenek. Jadi musti berjalan agak pelan agar ia tidak tertinggal. Hampir satu jam kami berjalan.</p>
<p>Akhirnya sampai juga di rumahnya. Tampak rumah Kaila dipenuhi warga kampung yang turut berduka cita atas kematian kakaknya. Walaupun kebanyakan warga kampung sini tidak terlalu menyukai sifat ayah Kaila yang sombong dan pelit, tapi untuk urusan kematian, warga kampung sini masih sangat peduli dan terasa suasana kekeluargaan. Tidak membedakan kaya-miskin, baik-jahat, tua-muda. Semua batas-batas itu seolah sirna dan berganti dengan sifat kepedulian. Kurasa kematian adalah tali kehidupan yang merajut benang-benang perbedaan itu agar menjadi harmoni dan kembali pada sifat dasarnya, kemanusiaan.</p>
<p>Aku dan nenek dipersilakan duduk oleh salah seorang kerabat Kaila. Kulihat Kaila ada di dalam,  dan sedang duduk dekat dengan kain putih yang membungkus tubuh kakaknya. Kuharap ia tetap bisa tabah. Suasana di sini cukup senyap dan penuh haru. Hanya ada beberapa suara isakan tangis keluarga dan kerabat Kaila, dan bacaan doa-doa yang diharapkan dapat mengiringi perjalanan arwah. Tamu-tamu yang datang tidak banyak bercakap dan lebih memilih diam, dengan sedikit menyimak doa-doa. Di sisi lain, beberapa warga sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk mengkebumikan jenazah.</p>
<p>Kematian memang sakit dan menyakitkan. Siapapun tidak ingin ditinggalkan oleh orang terdekatnya. Merasa kehilangan adalah sumber kedukaan. Rasa kehilangan muncul kalau apa yang kita miliki hilang. Tapi apa yang sebenarnya kita miliki. Orang-orang terdekat kita tidak pernah bisa kita miliki. Ia hanya dekat. Tidak pernah bisa menjadi hak milik kita. Mengapa ada rasa kehilangan, kalau ia bukan milik kita. Lepaskan semua ikatan kemelekatan, biarkanlah segala sesuatunya mengalir dengan sendirinya tanpa ada tali-temali yang mengikatnya.</p>
<p>Tentu kehidupan akan terasa jauh lebih ringan jika tidak ada sesuatu yang terikat. Kesenangan tidak perlu dikejar, karena justru akan menjadi keterikatan. Kesedihan tidak perlu dihindari, karena justru akan menjadi keterikatan. Keterikatan akan memunculkan kehilangan. Makanya, lepaskanlah segala keterikatan. Agar hidup kita lebih tenang. Dengan begitu, kebahagiaan akan memenuhi ruangan hidup kita. Ia akan datang dengan sendirinya. Memenuhi gelas kosong yang telah kita sediakan dalam jiwa kita. Bisakah aku katakan hal ini kepada Kaila, agar hatinya sedikit terhibur. Yaah&#8230; menghiburnya. Tapi, aku ragu. Kata-kataku ini bisa saja malah membuatnya lebih bingung dan semakin sedih.</p>
<p>Kurasa, nenek adalah orang yang paling paham dengan pandanganku itu. Ia telah membuktikan dirinya tidak pernah merasa memiliki sesuatu apapun. Setidaknya itu yang kulihat. Termasuk anaknya, termasuk cucunya. Semua yang ada hanyalah titipan. Saat ayah ibuku meninggal, nenek tidak merasa kehilangan dan seolah ia sudah menyiapkan segala sesuatu untuk kepergian mereka berdua. Tapi, aku tidak tahu bagaimana jika nenek tiba-tiba meninggalkanku. Aku tak tahu bagaimana aku harus menghadapi kenyataan itu, yang pastinya suatu saat akan datang. Sangat sulit untuk tidak merasa memiliki. Karena sesuatu yang dekat, serasa milik kita. Walaupun aku bisa mengungkap pandangan ini, tetapi aku belum tentu sanggup menjalaninya. Hidup tidak cukup untuk direnungkan. Tetapi harus dijalani. Harus dialami. Barulah bisa menemukan hakekat kehidupan yang sejati. Ahh.. kenapa pikiranku tidak mau berhenti.</p>
<p>Sebaiknya aku menemui Kaila. Walaupun aku masih bingung kata-kata  apa yang akan aku sampaikan kepadanya, tapi aku harus menemaninya. Yap, itu akan lebih baik daripada aku duduk disini saja. Siapa tahu kehadiranku bisa sedikit menenangkan dukanya. Kehadiran tanpa kata. Kehadiran yang penuh rasa. Kurasa itu alasan yang tepat. Tapi aku agak takut dan kurang nyaman dengan ayahnya.</p>
<p>“Nek, bolehkah aku menemui Kaila?“ tanyaku kepada nenek.<br />
“Yaa&#8230; temanilah. Ia butuh teman&#8230;.” jawab nenek.</p>
<p>Dengan sedikit ragu, aku melangkah masuk ke dalam ruangan, tempat Kaila dan keluarganya berkumpul mengitari jenazah yang sebentar lagi akan dikebumikan. Kaila pun menoleh dan memandangku dengan tatapan yang agak kosong. Tampak sangat sedih. Lalu, ia memintaku untuk duduk disampingnya.  Terdengar suara setengah berbisik dari mulutnya.</p>
<p>“Aku ingin membagi duka padamu. Kamu mau kan?” Katanya.</p>
<p>Ia berkata disertai isakan  tangis dan lelehan air mata. Intonasi suaranya jauh lebih dalam  dibanding kemarin saat ia memintaku untuk berbagi kebahagiaan dengannya. Aku hanya bisa mengangguk pelan, sambil mengambil tempat duduk di sampingnya.</p>
<p>Perlahan, aku jadi ikut terharu dan hanyut dalam dukanya. Tak terasa, kedua mataku pun mulai berkaca-kaca. Kesedihan yang mulai kurasakan ini mengingatkanku pada duka yang kualami saat kedua orang tuaku meninggal. Rasa kehilangan yang sangat. Perasaan sedih, patah, lunglai, takut, hampa, dan beribu rasa tidak menentu menyesaki rongga dada. Semuanya membeku dan kering. Hanya air mata yang sanggup menggerakkan alirannya. Membasahi dinding-dinding kesunyian. Air mata sebagai letupan-letupan jiwa yang terpaksa bertahan hidup dalam labirin yang gelap, sempit, dan buntu.</p>
<p>Kaila telah berhasil membagi dukanya padaku. Kuharap separuh dukanya sudah berkurang. Sekian lamanya aku duduk menemaninya. Aku melirik Kaila yang masih diam tertunduk di sampingku. Duka itu masih ada, tapi aku melihat dia lebih baikan. Ingin sekali aku mencoba membagi ketenangan dan kebahagiaan kepadanya. Tapi suasana masih saja membungkam gerakku.</p>
<p>Hingga pada akhirnya jenazah itu dibawa, dan diusung untuk dikebumikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fiksi.elmoudy.com/kehilangan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nenek</title>
		<link>http://fiksi.elmoudy.com/nenek</link>
		<comments>http://fiksi.elmoudy.com/nenek#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 05:15:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chapter 03 : Xulian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fiksi.elmoudy.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Mereka sudah di kandang. Mereka tampak cukup puas dengan perjalanannya mencari makan siang tadi. Pastinya malam nanti mereka akan bisa tidur pulas. Sekarang aku perlu membersihkan badan dan segera menemani nenek yang sebentar lagi akan menghidangkan makan malam. ……………….. “Nek.. apa menu makan malam ini?” Tanyaku agak iseng. Yaa.. biasalah.. Ayo makaan..” jawab nenek sambil [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2009/11/xulian-tiga2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-48" style="border: 0pt none; margin: 0px 5px;" title="xulian-tiga2" src="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2009/11/xulian-tiga2.jpg" alt="xulian-tiga2" width="268" height="380" /></a>Mereka sudah di kandang. Mereka tampak cukup puas dengan perjalanannya mencari makan siang tadi. Pastinya malam nanti mereka akan bisa tidur pulas. Sekarang aku perlu membersihkan badan dan segera menemani nenek yang sebentar lagi akan menghidangkan makan malam.<br />
………………..<br />
“Nek.. apa menu makan malam ini?” Tanyaku agak iseng.<br />
Yaa.. biasalah.. Ayo makaan..” jawab nenek sambil mengambilkan nasi buatku dan menaruh ikan  asin di piringku.</p>
<p>“Sambil makan, nenek mau cerita. Kamu mau mendengarkan cerita nenek kan Xulian..?” kata nenek sambil melahap nasi yang masih hangat, dicampur sambal trasi.</p>
<p>“Pastinya donk nek..” Jawabku singkat.</p>
<p>“Tadi siang waktu nenek pulang dari pasar, ada berita duka. Kampung di sebelah kita sedang mengalami musibah. Nenek tadi sempat kesana untuk memastikan keberadaanmu.” Jelas nenek.</p>
<p>Musibah apa nek?” tanyaku sedikit kaget mendengar cerita nenek.</p>
<p>“Tadi siang, ada angin puyuh mengamuk di sana. Beberapa rumah hancur dan belasan orang meninggal.”</p>
<p>“Hhaaahh… angin? Mengamuk ?” aku kaget bukan main dengan apa yang barusan nenek katakan.</p>
<p>“Iyaa.. tadinya aku sangat mengkhawatirkan kamu, kalau-kalau kamu menggembalakan kambing ke kampung sebelah. Tapi waktu nenek kesana, kamu tidak ada. Setelah kutanya beberapa temanmu yang ada di sana, kamu ternyata ada di ladang.”</p>
<p>“Benar nek.. aku seharian ada di ladang. Dan aku tidak tahu kalau ada musibah itu. Tadi siang aku malah ketiduran… dan bermimpi…” sahutku agak melantur.</p>
<p>Angin… kenapa dengan angin? Kenapa ia sampai mengamuk dan membunuh belasan orang. Bukankah tadi siang, ia sedang bernyanyi dan menari denganku. Apa sebelum ia menemuiku, ia baru saja dari kampung sebelah. Ia pernah bilang, kalau ia hanya angin.. yang hanya bisa memberi. Memberi makanan dan buah-buahan dari surga. Kepada semua jiwa yang hidup di jagad raya ini. Memberi nafas bagi kehidupan. Tidak untuk menjarah. Apalagi sampai mengamuk dan membunuh. Tapi… apa arti semua ini? Hahh.. aku tidak habis mengerti.</p>
<p>“Xulian… kenapa kamu bengong? Nenek belum selesai bercerita. Diantara  korban yang ada… salah satunya adalah kakak Kaila… dan suaminya. Mereka juga meninggal dalam peristiwa itu.” Jelas nenek.</p>
<p>“Glegghh…. Apa?? Kakak Kaila meninggal?!” aku kaget bukan main dan hampir percaya dengan semua pembicaraan nenek.</p>
<p>Kakak Kaila meninggal. Secepat itukah? Kaila.. pasti sesampainya di rumah sangat kaget dan sedih. Ketidakbahagiaan Kaila disempurnakan dengan perginya saudaranya satu-satunya. Kasihan sekali Kaila.</p>
<p>“Neek… kenapa angin itu membunuh kakak Kaila.. dan belasan nyawa yang tak berdosa?” aku mulai melakukan kebiasaanku jika berbincang dengan nenek. Selalu bertanya tentang apa saja yang dianggap tidak masuk akal. Kadang nenek merasa jengkel dengan kebiasaanku ini. Tapi ia cukup bersabar untuk menjawabnya. Walaupun itu justru membuatku lebih banyak bertanya lagi.</p>
<p>“Aku tidak tahu Xulian.. semua kejadian di dunia ini sudah ada yang mengatur. Angin puyuh, gunung meletus, banjir, gempa, penyakit dan semuanya adalah kehendak Tuhan. Kita tidak bisa menghindarinya. Kita hanya bisa berdoa supaya kita dijauhkan dari segala malapetaka. Kalaupun tetap tertimpa, kita hanya bisa tabah.” Jelas nenek.</p>
<p>“Tapi… bukankah angin, gunung, bumi, dan semua makhluk di bumi ini adalah sahabat kita juga, nek. Kalau tidak disakiti, tentunya mereka juga tidak akan menyakiti kita. Mereka bisa memahami pikiran kita. Kenapa kita tidak bersahabat saja dengan mereka? Kalau kita menyayangi dan menghormati mereka, tentu mereka tidak akan menyakiti kita..” kataku.</p>
<p>“Jangan bicara begitu… memangnya siapa yang menyakiti angin. Dan mereka yang tertimpa musibah itu kan juga bukan orang jahat. Lagi pula, siapa yang bisa memahami perilaku mereka. Mereka tidak bisa bicara seperti kita. Mereka tidak punya pikiran apalagi perasaan. Kamu nggak usah bicara yang bukan-bukan, Xulian!” jelas nenek sambil menepuk pipiku.</p>
<p>“Tapi nek… tadi siang aku bermimpi sedang bicara dengan mereka. Dengan angin, daun, batu, dan semua yang ada di sekitarku. Bahkan kami menari dan menyanyi. Sangat menyenangkan, nek. Baru sekali itu aku merasakan suasana seperti itu. Ingin sekali mengulangi kejadian itu. Kalau saja semua orang bisa merasakan pengalaman itu, tentunya tidak akan ada angin puyuh yang membunuh.” Kataku.</p>
<p>“Xulian… sudahlah. Nenek akan berusaha memahami semua yang kau katakan. Nenek mengerti kamu rindu dengan kebahagiaan. Dan nenek sangat senang kamu mulai merasa bahagia. Usiamu masih sangat muda. Perjalananmu masih cukup panjang. Kamu perlu memiliki semangat untuk menjadi apa yang kau impikan. Xulian tidak akan menjadi penggembala selamanya, kan. Tapi nantinya Xulian akan menjadi manusia yang bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Nenek akan menemanimu sampai ada orang lain yang menggantikan nenek. Nenek sangat menyayangimu Xulian…” kata nenek sambil memegang kedua pipiku, dan menatapku dengan penuh keteduhan.</p>
<p>Aku hanya bisa diam sambil menatap wajah nenek yang renta. Tapi guratan di wajahnya menampakkan keteguhan yang tak pernah renta. Ia selalu tegar menghadapi segala yang mengalir dalam hidupnya. Tak pernah mengeluh sedikitpun. Bahkan saat ayah ibuku meninggal, nenek tidak menampakkan kesedihan yang telah menimpanya. Beda denganku. Waktu itu, aku benar-benar jatuh. Kedua orang yang paling dekat denganku, pergi selamanya. Aku seperti kehilangan kehidupan. Benar-benar mati. Tak ada kehidupan dalam diriku. Serasa jiwaku turut dikebumikan bersama kedua jasad kedua orang tuaku. Nenek selalu menemaniku.. menghiburku dengan kasih sayangnya yang sederhana. Hingga suatu waktu, nenek mengucapkan beberapa patah kata, “Xulian… segala yang datang akan pergi, dan segala yang pergi akan datang.”</p>
<p>Entah kekuatan apa yang tersembunyi dari kata-kata itu. Kata-kata itu muncul pada saat yang sangat tepat. Serasa ada yang menyentakkanku. Berangsur-angsur, jiwaku mulai hidup kembali. Entah darimana nenek menemukan ucapan itu. Nenek hanya mengucapkan sekali saja sepanjang yang kutahu, hingga sekarang tak pernah diucapkannya lagi. Terkadang nenek tampak misterius. Tak bisa ditebak. Di balik kepolosannya, ia menyimpan beribu keteguhan jiwa.  Sebuah kebijaksanaan dibalik kesederhanaan.</p>
<p>“Xulian, sudah malam. Sekarang, kamu istirahat yaa. Besok kita akan ke rumah Kaila untuk turut berduka.” Kata nenek sambil membereskan piring dan sisa makanan yang masih tersisa di meja. Lalu ia pergi ke dapur.</p>
<p>Aku masih terduduk diam beberapa saat.<br />
Lalu&#8230; beranjak tidur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fiksi.elmoudy.com/nenek/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kambing dan Nizar Kailani</title>
		<link>http://fiksi.elmoudy.com/kambing-dan-nizar-kailani</link>
		<comments>http://fiksi.elmoudy.com/kambing-dan-nizar-kailani#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 12:08:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chapter 02 : Xulian]]></category>
		<category><![CDATA[kambing]]></category>
		<category><![CDATA[nizar kailani]]></category>
		<category><![CDATA[xulian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fiksi.elmoudy.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[“Kubawakan air buat kalian. Setidaknya ini akan membasahi kerongkonganmu!” Ujarku  kepada kambingku. Ketiga kambingku langsung menghampiriku dan saling berebut seember air yang kupegang. Mereka tampak sangat kehausan, maklum saja hampir seharian mereka merumput di bawah terik matahari. Mereka tampak antusias untuk menyeruput air segar itu hingga habis tak tersisa. Kulihat ada kepuasan di muka mereka. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2009/10/xulian-dua2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-44" style="border: 0pt none; margin: 0px 5px;" title="xulian-dua2" src="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2009/10/xulian-dua2.jpg" alt="xulian-dua2" width="268" height="380" /></a>“Kubawakan air buat kalian. Setidaknya ini akan membasahi kerongkonganmu!” Ujarku  kepada kambingku. Ketiga kambingku langsung menghampiriku dan saling berebut seember air yang kupegang. Mereka tampak sangat kehausan, maklum saja hampir seharian mereka merumput di bawah terik matahari. Mereka tampak antusias untuk menyeruput air segar itu hingga habis tak tersisa. Kulihat ada kepuasan di muka mereka. Seolah mereka ingin menunjukkan kebahagiaannya, dengan tersenyum sekenanya dengan sedikit rona muka yang lebih segar. Aku turut senang melihat ekpresi mereka. Haha.. dasar kambing.</p>
<p>Ketiga kambingku ini adalah makhluk terdekat, tepatnya kawan dekatku. Setiap harinya, hampir seharian waktuku aku habiskan bersama mereka. Aku sangat nyaman dan senang bermain-main dengan mereka. Kadang mereka mengajakku berkejaran di ladang. Kadang mereka minta dibelai lehernya yang dipenuhi bulu hitam yang panjang dan tebal. Kadang saat aku sedang sedih dan terdiam, mereka menghampiriku dan spontan mereka mendekatkan kepalanya ke wajahku, dan hendak menciumi mukaku sebagai isyarat agar aku bangkit dan berjalan-jalan menggembaakan mereka. Melupakan semua duka dan menikmati kesegaran alam. Bersama kambing.</p>
<p>Aku mulai teringat dengan kisah itu. Beberapa waktu yang lalu, saat kedua orang tuaku meninggal dunia, rasa duka yang berkepanjangan menghantui hari-hariku. Sekian lamanya aku kehilangan kehidupan. Jiwaku senyap. Tak ada lagi cinta sejati yang bisa menggantikan kesejatian cinta ayah ibuku kepadaku. Mereka sangat mengayangiku dan segala yang dimilikinya ia berikan untukku dan masa depanku. Aku adalah anak lelaki tunggalnya, yang sangat diharapkannya kelak menjadi manusia yang berguna bagi siapa saja. Berguna bagi keluarga. Tetangga sekitar. Berguna bagi masyarakat. Bagi kehidupan yang ada di bumi ini. Sebagai manusia  utuh. Begitu kata ayahku. Pengorbanan mereka melampaui kehidupan raga mereka. Hingga akhrinya mereka menghembuskan nafasnya yang terakhir demi anak semata wayangnya ini.</p>
<p>Ayah ibu… anakmu ini masih saja kekanak-kanakan. Tentu saja aku tak akan pernah sanggup membalas cinta kalian. Tapi aku berjanji, akan menjadi anak yang selalu ingat dan menjalani semua nasehat terakhirmu. Menjadi manusia utuh.  Aku tahu, jiwa kalian ada di dalam diriku. Bersemayam dan satu dengan jiwaku yang masih muda. Kalian selalu membimbing dan mengarahkanku untuk menemukan mutiara kehidupan yang masih tersembunyi dari mata batinku. Usiaku yang baru 22 tahun, masih sangat labil untuk mengerti dan melakoni kehidupan yang nyata. Aku yakin jika sampai pada waktunya, aku akan menemukan mutiara itu sebagai sumber cahaya yang menjadikanku sebagai manusia utuh. Ayah ibu… aku rindu kalian.</p>
<p>Tak terasa, air mataku mengalir dari celah kedua mataku. Air mata yang bermula dari palung jiwa yang terdalam, tempat dimana ayah ibu bersemayam. Air mata sebagai tanda cinta yang murni antara aku, ibu, dan ayah.</p>
<p>Tanpa kusadari, seekor kambing menghampiriku dan hendak menciumku yang sejak dari tadi tertegun diam. Hahhh… mereka selalu tahu apa yang sedang kupikirkan. Baiklah.. sepertinya kalian ingin mengajakku berjalan-jalan. Menyusuri pematang dan berkejaran di bawah matahari sore.</p>
<p>“Xuliaaaaaann…!” Kudengar ada suara dari kejauhan memanggilku. Hmm… Nizar Kailani. Mau apalagi dia kesini. Beberapa hari ini, ia sering datang ke sini. Katanya, ia suka dengan kambing-kambingku. Nizar Kailani, anak gadis seorang pedagang kaya di kampungku. Tapi kulihat, dia tidak pernah menunjukkan kalau dia anak kaya. Dia tampak sederhana. Tiap ke sini, dia cuman pakai celana pendek selutut dan kaos oblong. Dengan sandal jepit. Yang jelas… aku suka dengan kesederhanaannya. </p>
<p>Aku lebih senang memanggilnya Nizar, walau keluarganya memanggilnya, Kaila. Buatku, dia tampak lebih laki-laki, daripada perempuan. Tomboi dan suka pecicilan seenaknya. Karena itulah, Nizar adalah panggilan yang lebih pas buatnya. Tapi, tiap kali aku memanggilnya begitu, dia tidak terima. Katanya Nizar Kailani adalah perempuan, dan panggil aku Kaila, okeey!! Yaap… pa boleh buat, okey Kaila. Aku bisa mengerti itu. Tapi hal yang tetap tidak kumengerti, kenapa ia mau saja datang ke sini sekedar menemani kambing-kambingku di ladang. Katanya, ia bosan tinggal di rumah.</p>
<p>“Xuliaaaan…!” kali kedua dia memanggilku dengan setengah teriak. “Maaf ya, aku datang terlambat. Ini kubawakan makanan dan buah. Juga sebotol air. Tentu kamu belum makan siang kan? Kambingmu saja sudah kenyang, tapi majikannya sendiri kok masih kelaparan. Ini makanlah&#8230;! Ada nasi pecel, buah pepaya, dan sebotol air dingin.” </p>
<p>Dengan sedikit rasa sungkan.. aku ambil bungkusan itu dari tangannya, lalu kuteguk air dingin yang ada dibotol. &#8220;Terima kasih, Kaila.. kamu sangat baik. Tapi sekarang aku musti menggembalakan kambing-kambingku ini, mereka mengajakku jalan menyusuri pematang. Kayaknya mereka masih belum kenyang. Aku akan menghabiskan makanan ini setelah selesai menggembala mereka.”</p>
<p>&#8220;Eiihh… Xulian… Istirahatlah dulu sebentar. Habiskan dulu makanan itu. Biar aku saja yang menemani kambing-kambingmu. Oke yaa..!&#8221; katanya. Kaila langsung berlari kecil menghampiri kambing-kambingku dan menarik tali yang menggelantung di salah satu leher kambingku yang paling kecil. Ia tampak sangat senang melakukan kebiasaan barunya itu.</p>
<p>Aku mulai membuka bungkusan nasi pecel, dan segera kulahap. Sambil makan, aku memperhatikan tingkah laku Kaila yang sedang bermain-main dengan kambing-kambingku. Anak gadis kaya berjibaku dengan kambing. Haaha&#8230; Sesekali ia menarik tali yang menggelantung di leher kambing agar si kambing mau berjalan mengikutinya. Ia ambil dedaunan rumput gajah  dan memberikannya ke kambingku yang paling kecil. Tapi sayang, si kambing cuek dan lebih suka memilih rumput yang ada di  bawahnya. Kaila pun agak kesal. Setengah memaksa,Kaila meyodorkannya agar si kambing mau memakan daun yang dari tadi dipeganginya. Tetap saja si kambing tak mau, dan malah pergi meninggalkan Kaila. Haha… kasian amat Kaila dicuekin ama kambing.</p>
<p>Tiba-tiba Kaila menoleh kepadaku, dan terang saja aku setengah kaget. Sambil tertawa riang dia mendatangiku yang masih terduduk di bawah pohon nangka. Aku terus saja melahap nasi pecel untuk yang terakhir, dan meneguk air untuk melonggarkan kerongkongan.</p>
<p>“Xulian.. kenapa kambing kecilmu tidak mau bermain denganku? Kayaknya dia tidak menyukaiku?” ujarnya agak kesal.</p>
<p>“Ya, mungkin. Bisa jadi, ia tak tahan dengan bau badanmu. Terlalu wangi kali… Kalau lama-lama dekat kamu, bisa-bisa mereka bersin” jawabku setengah ngawur.</p>
<p>“Masak seh… kalau gitu besok aku akan menggosok badanku dengan minyak ikan. Biar bau amis dan asin. Kan kambing suka yang asin-asin yaa.. betul nggak, Xulian..?”</p>
<p>“Yap pastinya… saking senangnya, nanti kamu akan diciumi dan dimakannya..  Huaha hahaa…..” kami pun tertawa lepas agak lama.. hingga beberapa saat kami terdiam.</p>
<p>“Eeh.. Xulian. Aku lihat hari ini kamu tampak beda..” kata Kaila sambil menatapku agak serius. “Emangnya apa yang beda?” tanyaku balik. “Aku melihat air mukamu tampak lebih tenang dan bahagia. Dan matamu agak basah. Apa kamu habis menangis?” Pertanyaan Kaila membuatku agak bingung. Apa aku harus menanggapi pertanyaannya ini. “Ahh… gak ada apa-apa. Tadi mataku baru saja tersiram air saat aku minum.” Jelasku agak mengarang.</p>
<p>“Aku yakin bukan karena itu. Tahukah kamu Xulian.. kenapa aku suka bermain-main ke sini bersama kambing-kambingmu ini. Karena beberapa hari kemarin, secara tak sengaja aku melihat kalian terlihat sangat dekat dan akrab. Seolah, kamu dan kambing-kambingmu adalah satu keluarga yang hidup dengan  amat bahagia. Aku jadi pengen ikut gabung. Kadang aku berpikir, kenapa ini bisa terjadi? Ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa manusia dan kambing serasa menjadi satu keluarga yang bahagia. Kamu memiliki nenek yang selalu memperhatikanmu, dan mencintaimu. Dan kamu juga punya keluarga yang sangat kamu sayangi, yaitu ketiga kambingmu ini. Entahlah.. bisa saja pandanganku ini salah. Bagaimana menurutmu?” Tanya Kaila dengan mimik yang mengherankan.</p>
<p>“Hmm… entahlah. Nenek adalah satu-satunya sosok yang kupunya. Dia sangat menyayangiku. Dan kambingku ini.. menjadi teman yang dengan setia menemaniku kemana pun aku pergi. Selayaknya teman sejati, yap. Merekalah yang membuatku lebih nyaman dalam menjalani keseharianku. Aku bahagia bersama mereka. Karena memang hanya mereka yang kupunya. Karena aku memang penggembala kambing. Memangnya kenapa denganmu, Kaila? Apakah kamu tidak bahagia dengan apa yang sudah kamu miliki sekarang? Ada ayah ibu, saudara – yang pastinya sangat memperhatikan kamu. Semua kebutuhanmu bisa kamu dapatkan dengan mudah. Apalagi yang kurang?” aku coba peduli dengan risau yang menyelimuti wajahnya.</p>
<p>“Tidak… tidak seperti yang kaubayangkan. Walaupun aku punya keluarga yang lengkap – ada ayah, ibu, dan seorang kakak perempuan, tapi kehidupan kami tidak seperti yang kau bayangkan. Ayah ibuku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Katanya ini semua untuk masa depanku nanti. Mereka memberiku uang dan segala kebutuhanku telah mereka sediakan. Kecuali satu hal. Kasih sayang mereka. Aku tidak merasakannya itu. Kakakku sudah menikah dengan seorang laki-laki di kampung lain, dan tentu saja sudah tidak ada lagi yang memperhatikanku lagi. Kadang ayah ibuku suka bertengkar tentang sesuatu yang tidak perlu. Dan aku cukup muak melihat pertengkaran itu. Aku bertanya dalam batin, dimanakah kebahagiaan itu? Kekayaan justru membuat kehidupan menjadi sempit dan sesak. Tak ada ruang untuk menikmati apa itu yang dinamakan kebahagiaan. Aku coba mencari-cari jawaban. Tapi hingga saat ini, pertanyaan itu tak pernah bisa kuketemukan.</p>
<p>“Xulian… maukah kamu berbagi kebahagiaan denganku?” Kulihat mata Kaila tampak berkaca-kaca. Ia seolah memohon sesuatu yang sangat berarti bagi hidupnya. Kepadaku, bagaimana mungkin. Memangnya aku ini siapa. Aku hanya seorang anak miskin yang hidupnya penuh dengan kesusahan. Bagaimana aku bisa membagi kebahagiaan dengan seorang anak pedagang kaya. Permintaan Kaila malah membuatku tidak habis mengerti. Aku justru berpikir, seandainya aku bisa menjadi pedagang kaya seperti ayahnya, tentu ayah ibuku tidak harus bekerja keras. Dan mereka akan bisa menemaniku hingga waktu yang sangat lama. Tapi karena kemiskinan ini, ayah ibuku pergi lebih cepat. Dan aku pun hanya penggembala kambing. Entah sampai kapan.</p>
<p>“Heih… kenapa kamu diam saja, Xulian?” aku tersentak kaget mendengar suara Kaila.<br />
“Hmm… entahlah… aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Apa yang musti aku bagi?” aku bingung untuk menanggapi pertanyaannya.</p>
<p>“Ya sudahlah… kurasa kamu tidak bisa membantuku. Mungkin saja kambing-kambingmu itu yang malah bisa membantuku. Yukk… kita bawa mereka jalan-jalan. Kayaknya mereka sudah tidak sabar lagi menunggu majikannya. Aku pegang kambing kecilmu yaa. Dan kamu yang lainnya. Boleh yaa…!” aku terdiam sejenak menyadari kekecewaan Kaila.</p>
<p>Kami pun segera beranjak dan menghampiri ketiga kambing yang memang dari tadi sudah tampak bosan merumput di tempat yang sama. Mereka ingin mencari rumput lain dengan suasana yang lebih menyenangkan. Aku, Kaila, dan ketiga kambingku berjalan menyusuri pematang yang di sekitarnya tampak hijau. Sesekali kambing kecilku yang dibawa Kaila mogok jalan, dan spontan ingin merumput. Tapi segera Kaila menarik-narik tali yang mengikat leher si kambing, hingga akhirnya mereka berjalan bersama. Mereka mulai tampak akrab.</p>
<p>Hembusan angin sore membuat perjalanan sore kami serasa segar dan riang. Ditemani goyangan dedaunan ilalang yang tampak menghijau di sisi kanan kiri kami, seolah mereka melambai-lambai kepada kami berlima. Mereka seperti sedang menjamu kami selaku sahabat bagi mereka. Entah ada apa dengan hari ini. Aku merasakan sore ini beda, tampak lebih menyenangkan. Kedekatan, keakraban, dan keintiman memenuhi seisi jiwa. Terhadap dedaunan, tanah, bebatuan, angin, awan, dan semua hal yang ada di sekitarku. Terhadap kambing-kambingku. Juga terhadap Kaila.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fiksi.elmoudy.com/kambing-dan-nizar-kailani/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kosong</title>
		<link>http://fiksi.elmoudy.com/kosong</link>
		<comments>http://fiksi.elmoudy.com/kosong#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chapter 01 : Xulian]]></category>
		<category><![CDATA[kosong]]></category>
		<category><![CDATA[xulian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fiksi.elmoudy.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Gelap… kelam… sangat gelap…… Apa ini? Dimana aku? Aku serasa hilang di tengah ruang waktu yang kosong. Tak tahu lagi dimana aku berada. Aku? Masih adakah aku? Seolah aku kosong dan menyatu dengan kekosongan. Kekosongan yang memenuhi seluruh ruang jagad. Yang kutahu, aku adalah aku, tanpa bentuk.. tanpa rupa. Aku buta akan semua wujudku. Aku, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2009/10/xulian-satu-kosong2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-20" style="border: 0pt none; margin: 0px 5px;" title="xulian-satu-kosong2" src="http://fiksi.elmoudy.com/wp-content/uploads/2009/10/xulian-satu-kosong2.jpg" alt="xulian-satu-kosong2" width="268" height="380" /></a>Gelap… kelam… sangat gelap……</p>
<p>Apa ini? Dimana aku? Aku serasa hilang di tengah ruang waktu yang kosong. Tak tahu lagi dimana aku berada. Aku? Masih adakah aku? Seolah aku kosong dan menyatu dengan kekosongan. Kekosongan yang memenuhi seluruh ruang jagad. Yang kutahu, aku adalah aku, tanpa bentuk.. tanpa rupa. Aku buta akan semua wujudku. Aku, serasa sedang melesat menembus kekosongan yang gelap gulita, menuju ke takterbatasan dimensi. Saat kusadari aku sedang bergerak melesat, seketika aku pun terhenti tanpa rasa. Lalu kekosongan berbalik melesat menujuku, masuk di kedalaman ruang jiwaku.</p>
<p>Aku terpaku membeku, merasakan kekosongan yang mengalir deras melewati jasad dan darahku. Menerjang duri-duri keakuanku hingga tersapu bersih tak tersisa. Melenyapkan patung-patung keberhalaan yang telah tertancap ratusan tahun di tulang rusukku. Kekosongan itu semakin deras mengalir dalam ruang waktuku, hingga sampai pada kekosongan itu sendiri. Senyap. Sunyi…</p>
<p>Siapa aku? Siapa kekosongan? Apa beda aku dengan kekosongan? Saat kekosongan melesat masuk di ruang jiwaku, aku pun melesat masuk ke ruang kekosongan. Saat kekosongan merasukiku, aku pun merasuki kekosongan. Aku adalah kosong. Kosong adalah aku…</p>
<p>Aku pun terbangun.</p>
<p>Kurasakan hembusan lembut angin menerpa tubuhku, seolah ia ingin membangunkanku dari tidurku. Aku sangat suka dengan caranya membangunkanku. Lembut dan menyegarkan. Ia pun membawa udara segar dari laut seberang untuk diberikannya kepadaku. Kepada jiwaku. Kulihat remang-remang pepohonan tampak lebih hijau, segar, begitu dekat, dan intim. Bebatuan pun serasa mendekat seolah ingin mengajak jiwaku yang baru saja terbangun. Goyangan dedaunan ilalang mengajakku menari-nari sambil mendendangkan nyanyian alam. Awan, langit, dan matahari pun tak ketinggalan turut memeriahkan suasana dengan memancarkan kilaunya yang warna warni.</p>
<p>Semua yang terhampar di depanku, sedang menyapa jiwaku dengan penuh keriangan dan kegembiraan. Mereka semua, sedang memainkan peran di atas panggung raksasa dengan sangat kompak dan indah. Menari-nari sambil mendendangkan hentakan irama kehidupan membentuk satu harmoni yang utuh. Aku pun hanyut dalam pusarannya. Terasa tercurah luapan rasa yang amat mendalam dan meluas… Seluas tepian-tepian langit di atas sana.</p>
<p>Kurasakan sayup-sayup suara jiwa dari dedaunan, batu, angin, awan, dan semua makhluk yang ada di sekitarku. Betapa tenang dan damainya bebatuan ini. Ia begitu pasrah dan teguh dalam menghadapi hari-harinya. Walaupun ia diterpa panas terik, diguyur hujan bertubi-tubi, ia tetap saja tenang dan teguh dalam menghadapi semuanya. Sekarang pun ia masih menatapku dengan keteguhan jiwanya, seolah mengajakku untuk masuk ke dunianya.</p>
<p>Dedaunan ilalang pun tak henti-hentinya bercengkerama dengan sang angin sambil meneriakkan yel-yel kemenangan yang sepertinya baru saja diperolehnya. Entah kemenangan apa yang dirasakannya. Sesaat, ia menoleh kepadaku, sepertinya dia telah mendengar pikiranku. Katanya, “Ini adalah hari bahagiaku karena tadi malam sang hujan telah menyegarkan dahagaku. Sekarang, sang angin datang membelai tubuhku dengan sangat lembut dan ringan. Aku sangat bahagia. Bolehkah aku berbagi kebahagiaan denganmu?”</p>
<p>“Hahaaa…. Dengan senang hati kuterima tawaranmu, wahai ilalang. Ayo kita rayakan kemenanganmu!” balasku.</p>
<p>Tak ketinggalan sang angin turut menyahut, “Xulian… mari kudekap tubuhmu agar jiwaku pun selalu segar dan riang. Juga telah kubawakan makanan dan buah-buahan dari laut seberang buat jiwamu. Makanlah ini dan bergembiralah&#8230;!”</p>
<p>Kurasakan dekapan sang angin yang sangat lembut dan ringan masuk di kedalaman jiwaku yang paling dalam. Kuhirup udara segar hingga memenuhi rongga dadaku, menelusup masuk di sela peredaran darah di sekujur tubuhku. Menembus sumsum tulang hingga ke seluruh isi kepala. Segar, dan menggairahkan.</p>
<p>“Terima kasih angin, kau tak pernah bosan memberiku makanan dari surgamu. Kau tak pernah pilih kasih. Seluruh makhluk di bumi telah kau sapa, kau belai, kau jamu dengan suapan kesegaran tanpa kau minta imbalan apapun.” Lalu sang angin pun berucap, “Simpan saja kata-katamu itu. Aku memang tercipta untuk memberi. Tidak untuk meminta apalagi menjarah. Aku angin dan hanya angin. Tak pernah lebih dari itu. Sekarang mari kita bergembira, Xuliaaan!” Sang angin pun berputar ringan di atas kepalaku, lalu menari meliuk menggoyang dedaunan di atas pepohonan.</p>
<p>Nyanyian dan tarian semua makhluk di sekitarku menghanyutkan apapun yang ada di dalamnya. Tiada hentinya. Jiwaku pun turut menari dan hanyut dalam ekstase yang maha dahsyat…</p>
<p>Apalagi yang hendak aku cari, saat diriku sudah memperoleh suasana yang penuh keriangan dan kegembiraan. Hanya kebahagiaan yang terasa. Tak ada duka, gelisah, dan cemas. Tak perlu ada benci, dengki, sombong, maupun keserakahan. Yang ada hanyalah nyanyian kegembiraan yang meluap. Bahagia, dan menyenangkan.</p>
<p>Ah.. inikah yang dinamakan surga…. Entahlah. Masih saja kurasakan ekstase yang menghanyutkan ini. Aku mulai terbayang dengan mimpiku tadi. Mimpi tentang  kekosongan. Kali ini, aku seolah merasakannya untuk yang kedua kalinya. Saat ini. Saat seluruh kesegaran udara dari laut seberang yang dibawa sang angin memasuki dan memenuhi setiap rongga di sekujur tubuhku. Saat jiwa-jiwa seluruh makhluk yang ada di depanku ini masuk di kedalaman jiwaku. Menyatu dan satu. Jiwa-jiwa yang memenuhi ruang kosong jagad raya, masuk dengan lembut dan cepat ke dalam ruang jiwaku. Dan jiwaku pun masuk di seluruh ruang jiwa mereka. Hingga semuanya serasa menyatu dan satu dengan kekosongan. Kosong yang tenang dan membahagiakan.</p>
<p>Apakah aku sedang mengalami de javu ? Keadaan dan perasaan yang sama, kualami secara berulang. Tapi sepertinya ini bukan de javu. Yang satu, mimpi. Yang ini, nyata. Tapi apa beda mimpi dan nyata, jika jiwa mengalami kebahagiaan yang sama. Entah apa yang sedang kualami ini. Bahkan di tengah keherananku ini, aku masih tak tahu apakah aku masih ada di dunia ini atau tidak. Hembusan angin semakin menerbangkan jiwaku memasuki dimensi tanpa batas. Aku telah kehilangan orientasi. Di mana aku? Kucoba pejamkan mata, kuhembuskan nafasku pelan untuk menyadari akan eksistensi diri, dan membumikan kesadaranku. Aku adalah Xulian. Xuliaan. Aku adalah seorang penggembala. Penggembala kambing. Kambing&#8230; kambingku… tiga. Kambiiing… siapa kambing? Dimana kambing? Kambingku!!!!&#8230;. aku pun tersentak kaget!</p>
<p>Dan aku terbangun. … tuk kedua kalinya.</p>
<p>Kambing… kambingku… dimana??<br />
Sepi… hening… tak ada kambing.</p>
<p>… Pfiuuhhh…. Apa yang barusan terjadi? Apakah aku mimpi? Mimpi….. aku barusan bermimpi. Mimpi yang sangat nyata. Mungkinkah sekarang aku masih bermimpi? Jangan-jangan, semuanya mimpi.</p>
<p>Sesaat aku diam dan terpaku. Mencoba sadar akan lingkungan sekitar. Tampak semua benda di sekitarku terlihat lebih hidup, lebih dekat, dan seperti… berpendar menyala. Penglihatanku sepertinya lebih terang dan tajam menatap semua obyek di alam ini. Hamparan ladang di depanku tampak hijau berkilaun. Mentari berada di sisi belakangnya, condong di ufuk barat. Perpaduan obyek yang serasi.</p>
<p>Dari kejauhan sayup-sayup terlihat tiga binatang sedang merumput. Sepertinya itu kambing. Ya.. kambingku.  Yapp….aku yakin. Pasti ini bukan mimpi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fiksi.elmoudy.com/kosong/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
